Warga Keluhkan Harga Gula Yang Tidak Semanis Rasanya

Rabu, 11 Maret 2020 | 10:09 WIB

Ilustrasi gula pasir. (Foto: katadata.co.id)

 

REMBANG, mataairradio.com – Meroketnya harga gula berimbas pada berbagai kalangan khususnya ibu rumah tangga dan pengusaha kecil yang menggunakan bahan baku pemanis dari tebu ini.

Pasalnya harga salah satu kebutuhan pokok tersebut tembus hingga Rp17 ribu per kilogram. Padahal harga normal gula pasir berkisar di harga Rp12-13 ribu per kilogram.

Siti Musyarofah salah satu ibu rumah tangga asal Pancur menyatakan naiknya harga gula sangat berimbas pada kelangsungan dapurnya. Hal ini setiap memasak apapun gula menjadi salah satu bahan yang tidak bisa ditinggalkan, belum lagi jika ingin menikmati kopi atau teh manis.

Bagi ibu rumah tangga, selisih harga lima ribu dari harga normal gula sangat berpengaruh karena dengan uang tersebut bisa dibelikan kebutuhan lain misalnya sayuran atau lauk seperti tempe dan tahu.

“Bulan kemarin masih Rp12 ribu lho mas, ini kok sudah tembus Rp17 ribu per kilogram. Padahal uang lima ribu bisa dibelikan sayur atau tempe dan tahu,” ungkapnya.

Andifil salah seorang penjual es teh manis disekitar alun-alun Rembang terpaksa menaikkan harga dagangannya sebesar lima ratus rupiah. Sebelumnya satu cup teh poci ukuran kecil dihargai dua ribu rupiah namun saat ini menjadi dua ribu limaratus rupiah. Begitu juga dengan item yang lain.

“Wah terpaksa kita naikkan Mas harga teh poci nya. Kalau gak gitu bisa rugi kita akibat naiknya harga gula,” ungkapnya.

Dirinya belum mengetahui penyebab naiknya harga gula yang sangat tinggi apakah memang stok gula yang tinggal sedikit atau memang permainan dari pedagang besar (tengkulak).

Andi berharap bahwa tingginya harga gula hanya sementara dan secepatnya kembali ke harga normal dikisaran Rp12-13 ribu per kilogram.

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor : Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan