Warga Dua Desa Minta Pabrik Beton Nyikaran Ditutup

Selasa, 30 Desember 2014 | 18:57 WIB
Suasana di rumah Sujoko, warga Dusun Nyikaran Desa Kemadu Kecamatan Sulang, seusai pertemuan warga yang membahas desakan penutupan pabrik beton milik PT Varia Usaha Beton, Selasa (30/12/2014). (Foto: Pujianto)

Suasana di rumah Sujoko, warga Dusun Nyikaran Desa Kemadu Kecamatan Sulang, seusai pertemuan warga yang membahas desakan penutupan pabrik beton milik PT Varia Usaha Beton, Selasa (30/12/2014). (Foto: Pujianto)

 

SULANG, mataairradio.com – Ratusan warga dari dua desa di Kecamatan Sulang dan Bulu mendatangi pabrik beton milik PT Varia Usaha Beton di wilayah Dusun Nyikaran Desa Kemadu Kecamatan Sulang, Selasa (30/12/2014) siang.

Warga dari Desa Kemadu Kecamatan Sulang dan Desa Ngulakan Kecamatan Bulu menuntut agar operasional pabrik beton anak perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk itu ditutup, karena dianggap melakukan banyak pelanggaran, salah satunya menyangkut persetujuan izin lingkungan.

Lebih dari 200 warga itu sebenarnya sempat datang dan melakukan aksi protes pada malam hari sebelumnya. Namun tidak ada perwakilan dari perusahaan yang bisa ditemui, sehingga warga melanjutkan aksinya pada keesokan harinya.

Sujoko, tokoh warga Dusun Nyikaran menuding pihak perusahaan telah memalsukan tanda tangan dari beberapa warga untuk persetujuan lingkungan.

Hal itu kita ungkapkan berulang kali pada saat pertemuan yang dihadiri oleh warga bersama pihak perusahaan dan Muspika Sulang, seperti di rumah Pak RW dan di lokasi pabrik pada Oktober lalu,” ungkapnya.

Menurut Sujoko, semestinya pabrik beton itu tidak beroperasi karena menggunakan cara-cara yang tidak benar dalam mendapatkan izin persetujuan dari warga.

“Sayangnya, di beberapa kali pertemuan yang dijuduli sosialisasi, tidak pernah ada titik temu antara pihak warga dengan perusahaan,” katanya.

Warga, khususnya yang berada di sekitar lokasi pabrik, belum memahami secara jelas gambaran rencana operasional pabrik pengolahan beton PT Varia Usaha Beton.

Warga juga meminta agar dilakukan pemasangan pagar keliling sebelum pabrik beroperasi serta merekrut dan memprioritaskan tenaga kerja lokal. Warga meminta pula kompensasi selama pabrik beroperasi, termasuk imbal balik kepada desa.

Mereka pun mempertanyakan penggunaan air saat pabrik beroperasi.

“Warga meminta agar air yang digunakan untuk operasi, menggunakan atau dicukupi dari air tangki, bukan dimonopoli oleh satu atau dua orang,” tandas Sujoko.

Pada pertemuan yang berlangsung selama satu jam sejak sekitar pukul 12.00 WIB dan dihadiri oleh perwakilan dari Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu, Muspika Sulang, Manajer Lapangan PT Varia Usaha Beton Sugeng, Kades Kemadu Taslim, serta 10 orang perwakilan warga, belum mencapai titik temu.

Namun yang jelas, sejak Senin (29/12/2014) malam hingga Selasa (30/12/2014) siang, pabrik beton tersebut tidak beroperasi. Warga mengancam menutup paksa secara permanen pabrik, jika tuntutan warga soal penjelasan atas banyak masalah, tidak dipenuhi.

Sementara akibat aksi warga tersebut, dari pantauan mataairradio, puluhan truk pengangkut beton curah tampak menganggur. Sebagian tertahan di pabrik, sedangkan sebagian lagi terparkir di tepi jalan di kawasan Mantingan Kecamatan Bulu.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan