Warga Buka Blokade Setelah Dijanjikan Pertemuan dengan Pemkab dan Semen

Rabu, 26 November 2014 | 16:14 WIB
Ibu-ibu memilih bertahan untuk memblokir akses menuju tapak pabrik milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di wilayah hutan Kadiwono Kecamatan Bulu hingga sekitar pukul 12.00 WIB, Rabu (26/11/2014). (Foto:Pujianto)

Ibu-ibu memilih bertahan untuk memblokir akses menuju tapak pabrik milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di wilayah hutan Kadiwono Kecamatan Bulu hingga sekitar pukul 12.00 WIB, Rabu (26/11/2014). (Foto:Pujianto)

 

BULU, mataairradio.com – Puluhan ibu-ibu yang memblokir akses ke tapak pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akhirnya bersepakat membuka blokade, setelah Kapolres Rembang menjanjikan terselenggaranya pertemuan antara mereka dengan pihak Pemkab dan perusahaan.

Kapolres Rembang AKBP Muhammad Kurniawan turun menemui puluhan ibu-ibu dan warga penolak pabrik semen yang memblokir akses ke tapak pabrik pada Rabu (26/11/2014) sekitar pukul 12.30 WIB.

Sempat terjadi pembicaraan yang alot antara Kapolres dengan perwakilan warga, Joko Prianto. Joko Prianto sempat meminta jika mereka harus membuka blokade, maka semestinya pihak pabrik semen menghentikan aktivitasnya.

Namun setelah diyakinkan dengan akan difasilitasinya mereka dengan pihak Pemkab dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dalam waktu segera, warga siap membuka blokade secara sendiri.

Puluhan personel Sabara yang sempat diterjunkan untuk mengantisipasi ketegangan antara warga dengan petugas pun ditarik keluar dari wilayah tenda penolakan yang telah dihuni kelompok penolak pabrik semen dalam 163 hari terakhir. Demikian pula dengan belasan satpam perusahaan.

“Intinya kelompok penolak pabrik semen meminta pertemuan segera dengan Pemkab dan pihak perusahaan. Di pertemuan nanti juga mesti ada sebuah keputusan. Jika pabrik semen terbukti melanggar apa yang ditudingkan warga, maka pabrik semen harus mau menghentikan aktivitasnya,” kata Kapolres.

Begitu pun, apabila warga tidak bisa membuktikan hal yang dituntut, maka mereka pun wajib menghormati aktivitas pabrik semen. Kapolres menyebutkan bahwa aksi warga yang memblokir akses ke tapak pabrik sebagai spontanitas dan insidentil.

“Mereka merasa tidak ditanggapi, sehingga melakukan spontanitas seperti ini. Aksi mereka belum sampai mengganggu secara signifikan aktivitas pabrik semen. Ini bisa berjalan kembali. Soal pembukaan blokade, silakan mereka (warga) sendiri nanti yang membuka,” tandasnya.

Joko Prianto meminta kepada pihak kepolisian dan pihak terkait lainnya agar tidak cidera janji, sebagaimana yang mereka merasa dapatkan dari Plt Bupati Rembang dan Gubernur Jawa Tengah.

“Semestinya aksi semacam pemblokiran tidak perlu terjadi, apabila perusahaan mau menghargai warga yang tidak setuju dengan pendirian dan rencana penambangan pabrik semen,” katanya.

Sementara itu, menurut Sutikno Hadi Santoso, Penanggungjawab Sistem Tata Kelola Pengamanan Lapangan dari pihak PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, pemblokiran yang berlangsung sejak pukul 06.30 WIB hingga pukul 14.00 WIB, berdampak pada tertahannya mobilitas alat dan bahan.

“Ada seratusan truk pengangkut tiang pancang dan besi serta material lain yang tidak bisa masuk. Sekitar 300-400 pekerja pembangunan pabrik juga tidak masuk kerja hari ini (26/11/2014),” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




One comment
  1. koclox

    November 26, 2014 at 6:26 pm

    Pemkab harus bisa bertindak bijak dan tegas, agar kejadian2 seperti ini tdk berlarut2, tapi apa ada nyali Pemkab rembang dgn personelnya sprti itu?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan