Wacana Perpanjangan Relaksasi, Nelayan bisa Lebih Santai

Rabu, 17 Mei 2017 | 20:25 WIB

Kapal-kapal cantrang berlabuh di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang. Menurut sumber di kalangan nelayan, rata-rata nelayan cantrang belum bersiap dengan alat tangkap lain. Kebanyakan dari mereka menunggu modal cukup guna menggalang jaring lain yang baru. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Proses pergantian alat tangkap ikan dari cantrang ke jaring jenis lain yang dianjurkan kini molor karea wacana perpanjangan tahap kedua pada masa relaksasi.

Sejak wacana perpanjangan masa relaksasi jelang pelarangan cantrang, dari batas akhir 30 Juni 2017 menjadi 31 Desember 2017, para nelayan pengguna cantrang menjadi bisa lebih bersantai.

Padahal, nelayan yang kapalnya kembali mendapatkan surat izin berlayar dan surat izin penangkapan ikan, telah meneken pakta integritas yang intinya siap beralih dari cantrang, sebelum 30 Juni.

Menurut sumber di kalangan nelayan, rata-rata nelayan cantrang belum bersiap dengan alat tangkap baru. Kebanyakan dari mereka menunggu modal cukup guna menggalang jaring lain yang baru.

Nakhoda KM Pelita Mustofa Makmur, Kartono masih berharap kepada Pemerintah agar memperbolehkan nelayan untuk tetap menggunakan jaring cantrang secara selamanya karena menguntungkan.

Selain itu, sebagian besar nelayan sudah cukup lama menggunakannya serta menyakini cantrang ramah lingkungan. Apalagi ganti catrang butuh biaya hingga ratusan juta rupiah.

Mengenai wacana perpanjangan kedua masa relaksasi, ia menyatakan belum tahu lantaran baru berlabuh dari melaut menangkap ikan. Pihak PPP Tasikagung juga belum melansir keputusan tentang hal tersebut.

“Saya baru datang melaut, jadi belum tahu adanya informasi tersebut. Tetapi, sepertinya belum ada informasi dari PPP Tasikagung. Harapan nelayan, cantrang bisa digunakan selamanya,” katanya.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Kabupaten Rembang Sukoco menyatakan, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan belum memberikan surat edaran secara resmi kepada pihaknya.

“Bu Susi (Menteri KKP, red.) memberi pernyataan secara lisan, bahwa akan memperpanjangan penggunaan alat tangkap nelayan jenis cantrang sampai 31 Desember mendatang, khusus untuk nelayan di Jawa Tengah. Secara yuridis formal sampai hari ini belum ada,” tandasnya.

Ia juga menyatakan kurang tahu mengenai alasan kenapa kebijakan tersebut hanya berlaku di Provinsi Jawa Tengah. Namun kebijakan tersebut untuk mempercepat penggantian alat tangkap cantrang ke alat tangkap yang lebih ramah lingkungan.

“KKP sedang berusaha mempercepat penggantian alat tangkap. Kapal yang memiliki bobot mati di bawah 10 GT akan diganti alat tangkap. Yang 10-30 GT dibantu permodalannya untuk mengganti alat tangkap melalui perbankan,” katanya.

Ia menambahkan, per 2-10 Mei lalu, di Kabupaten Rembang telah terdata 1.288 kapal berbobot mati di bawah 10 gross ton, yang memiliki hak untuk bantuan pergantian alat tangkap oleh KKP.

“Tapi setelah divalidasi oleh tim dari Undip dan KKP, jumlahnya berkurang tinggal 587 kapal saja yang mendapat bantuan alat tangkap. Sebab, ada yang dobel raman, sudah meninggal, dijual ke orang lain, dan sudah beralih alat tangkap,” terangnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan