Tuntut Mundur Kasek, Siswa SD Mogok Belajar

Senin, 26 September 2016 | 13:37 WIB
Suasana SD Negeri Padaran Kecamatan Rembang yang sepi dari aktivitas belajar-mengajar karena para siswanya mogok, lantaran orang tua mereka protes kebijakan kepala sekolah yang dinilai sewenang-wenang. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Suasana SD Negeri Padaran Kecamatan Rembang yang sepi dari aktivitas belajar-mengajar karena para siswanya mogok, lantaran orang tua mereka protes kebijakan kepala sekolah yang dinilai sewenang-wenang. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan siswa di Sekolah Dasar Negeri Padaran Rembang mogok belajar pada Senin (26/9/2016) pagi. Orang tua mereka menuntut mundur kepala sekolah dari jabatannya karena dinilai telah melanggar tatanan di sekolah itu.

Muhammad Solkhan, salah seorang wali murid menyebut kepala sekolah, Suci Iriani Indrawati, bertindak sewenang-wenang. Keputusan yang diambil pihak sekolah sering dilakukan tanpa bermusyawarah dengan orang tua atau wali siswa.

Seperti pada peringatan Hari Raya Idul Adha kemarin. Para siswa ditarik iuran sebesar Rp35.000 utuk membeli hewan kurban. Namun sekolah tidak membelikan hewan kurban, tetapi malah membeli daging bungkus. Muncul tudingan, pihak sekolah terlibat bisnis dengan bakul daging.

“Pihak sekolah sering tidak melibatkan wali murid untuk membahas suatu program, jadi ya terjadi miskomunikasi. Seperti kurban kemarin itu, wali murid tahu-tahu disuruh bayar Rp35.000, begitu saja”, ungkapnya kepada mataairradio.com di depan SD Negeri Padaran.

Solkhan mengungkapkanan, selain soal kurban, pihak sekolah juga disebut memangkas dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebesar Rp50.000 tanpa persetujuan dari wali murid.

“Alasan pihak sekolah, uang hasil pemangkasan akan dibagikan kepada siswa yang belum mendapat BSM. Keputusan itu tanpa ada musyawarah dengan kami ,” katanya.

Salah seorang guru agama di SD Negeri Padaran Muhammad Amin mengonfirmasi aksi mogok belajar yang dilakukan oleh para siswa. Ia pun menyatakan, selama ini, setiap kali ada program atau acara, para guru pun jarang dilibatkan untuk bermusyawarah.

Seperti soal Peringatan Hari Raya Kurban, kepala sekolah tidak melakukan musyawarah terlebih dahulu, sehingga memicu kecurigaan dari beberapa pihak; dari pihak wali murid, guru, dan komite sekolah.

“Para guru jarang diajak musyawarah. Beliau tinggal memberi tahu saja. Peringatan kurban kemarin kan juga begitu; tidak ada musyawarah sama sekali. Jadi para wali murid ya bertanya-tanya”, katanya saat ditemui di sela berbincang dengan wali murid di depan SD Negeri Padaran.

Sementara itu, saat aksi unjuk rasa tersebut berlangsung, Suci Iriani Indrawati tidak sedang berada di sekolah. Menurut Amin, kepala sekolah sedang berkeperluan di Kudus.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan