Tren Beternak Kambing Kontes Menurun di Rembang

Jumat, 21 April 2017 | 16:29 WIB

Petugas kesehatan ternak mengecek beberapa kambing kurban menjelang Idul Adha 1435 Hijriah. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tren beternak kambing untuk keperluan kontes cenderung menurun di Kabupaten Rembang. Para peternak kini lebih fokus memenuhi kebutuhan kambing untuk harian seperti akikah dan konsumsi harian.

Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto mengatakan, tren beternak kambing di daerah ini bisa dikatakan naik-turun. Kambing peranakan etawa (PE) misalnya.

“Kambing PE pernah booming sekitar tahun 2011-2013 pada saat banyak kontes kambing diadakan; dimana untuk kambing PE dengan mutu unggul bisa dihargai hingga puluhan juta rupiah,” katanya kepada mataairradio.com.

Ia mengakui, peternak kambing sekarang lebih memilih melakukan pengembangbiakan ternak dengan berorientasi pada keuntungan atau profit oriented seperti di daerah Kemadu-Sulang, Sidorejo-Sedan, dan Karangsari-Sulang.

“Namun ternak kambing peranakan etawa masih potensial karena sifatnya bisa dwifungsi yaitu penghasil daging dan susu. Permintaan susu kambing di Rembang cukup bagus (di samping potensi pasokan susu dari populasi PE),” katanya.

Menurut catatan pihak Bidang Peternakan pada Dintanpan Kabupaten Rembang, hingga akhir 2016, populasi kambing sebanyak 162.091 ekor dan 30 persen atau sekitar 48.627 ekor di antaranya merupakan populasi kambing PE.

“Selain PE, kambing yang umum diternakkan di Kabupaten Rembang adalah kambing kacang yang mencapai kurang lebih 20 persen populasi dan kambing jawa randu atau silangan PE sebanyak 50 persen dari total populasi 162.091 ekor,” katanya.

Meskipun beternak kambing untuk kontes menurun, Agus Iwan menyatakan, secara umum beternak kambing masih menjadi pilihan lantaran di antaranya modal yang dibutuhkan lebih sedikit dan penjualan yang lebih mudah.

“Selain itu, beternak kambing dipilih karena perkembangan yang lebih cepat, pakan atau rambanan yang dianggap lebih murah bahkan didapat gratis bagi daerah sekitar hutan, dan alternatif pakan seperti kulit singkong dan rumput gajah, tersedia,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan