Kasus Tipiring Perselingkuhan Marak di Rembang

Friday, 17 January 2014 | 17:10 WIB
Satuan Sabhara Polres Rembang mengampanyekan penekanan tindak pidana ringan melalui dialog di MataAir Radio, Jumat (17/1). (Foto:Wahyu)

Satuan Sabhara Polres Rembang mengampanyekan penekanan tindak pidana ringan melalui dialog di MataAir Radio, Jumat (17/1). (Foto:Wahyu)

REMBANG, MataAirRadio.net – Kasus tindak pidana ringan atau tipiring berupa perselingkuhan di hotel, terbilang marak di Kabupaten Rembang. Yang paling baru, polisi mengamankan empat pasangan bukan suami istri dari tiga hotel di Kota Rembang pada Rabu (15/1) malam kemarin.

Kepala Unit Turjawali pada Satuan Sabhara Polres Rembang Ipda Yanto mengatakan, razia terhadap penyakit masyarakat tersebut memang diketatkan. Sebab dari perselingkuhan bisa terjadi tindak pidana lain, misalnya penganiayaan berat.

Selain perselingkuhan, kasus tipiring berupa peredaran miras dan penganiayaan ringan juga cukup banyak ditangani polisi. Namun menurut Yanto, di antara pelanggar tipiring ada yang tidak sampai disidangkan. Karena pertimbangan tertentu, mereka hanya dikenai wajib lapor.

Khusus peredaran miras, pihaknya juga mengencangkan operasi. Polres Rembang mengaku tidak menginginkan insiden sejumlah warga yang tewas gara-gara menenggak miras oplosan di Mojokerto Jawa Timur, terjadi di kabupaten ini.

Dia juga menyesalkan masih banyaknya kaum muda di Kabupaten Rembang yang mengonsumsi miras. Apalagi setelah menenggaknya, ada saja kasus ikutan seperti perkelahian maupun penganiayaan. Padahal sebagian dari mereka pengangguran.

Belakangan polisi pun menemukan kasus penganiayaan ringan yang korbannya sengaja jual diri. Buntutnya hanya mencari uang damai atau mencari keuntungan dari pelaku penganiayaan.

Jumat (17/1), Satuan Sabhara Polres Rembang mengampanyekan penekanan tindak pidana ringan melalui dialog di MataAir Radio. Tipiring adalah tindak pidana ringan yang ancaman hukumannya maksimal tiga bulan kurungan.

Termasuk dalam tipiring adalah merintangi jalan umum. Namun jerat tipiring tidak bisa dikenakan bagi mereka yang memprotes jalan rusak dengan menanami pohon pisang. Sebab polisi menilai itu sebagai peringatan agar pihak terkait lebih peduli pada perbaikan jalan. (Pujianto)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan