Tingkat Kasus Kebakaran 2015 Rembang Diklaim Turun

Rabu, 7 Oktober 2015 | 18:03 WIB
Mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Rembang. (Foto: Arif Bahtiar)

Mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Rembang. (Foto: Arif Bahtiar)

 
REMBANG, mataairradio.com – Tingkat kasus kebakaran dalam 10 bulan terakhir tahun 2015 di Kabupaten Rembang diklaim turun. Pihak Regu Pemadam Kebakaran DPU Rembang mencatat 38 kasus kebakaran sejak Januari hingga 7 Oktober 2015.

38 kasus kebakaran itu 19 kasus di antaranya adalah kebakaran kebun tebu, disusul 11 kasus kebakaran rumah, 5 kasus kebakaran di lokasi pabrik, dan masing-masing 1 kasus kebakaran pasar, warung, dan toko plus bengkel aksesoris mobil.

Petugas Pemadam Kebakaran pada DPU Rembang Sarpani mengatakan, turunnya tingkat kasus kebakaran antara lain akibat dari kesiapsiagaan masyarakat.

“Misalnya jika membakar sampah, ditunggui; atau ketika ada bagian rumah yang terbakar segera dirobohkan, agar tidak merembet,” terangnya.

Sarpani juga mengatakan, hampir semua kejadian kebakaran yang terjadi di Rembang, tertangani oleh regu pemadam. Hanya memang untuk daerah seperti Kragan, Sedan, dan Sarang, regu pemadam sering kali dikatakan terlambat datang.

“Jarak lokasi yang jauh dari pusat Kota Rembang menjadi kendala utama,” katanya.

Menurutnya, secara ideal, perlu ada armada pemadam yang disiagakan di wilayah timur Kabupaten Rembang. Usulan mengenai hal itu kerap dilontarkan masyarakat, tetapi belum ada tindak lanjut dari pemerintah kabupaten.

Mengenai musim kemarau yang diindikasikan masih panjang dan potensi kebakaran yang masih menghantui, Sarpani menyebutkan stok air di tampungannya terbilang cukup karena masih sekitar 50.000 liter.

“Jika pun kurang kami telah menyiapkan antisipasi meminta air ke PDAM,” tandasnya.

Sarpani menambahkan, 19 kasus kebakaran kebun tebu, mayoritas terjadi akibat rembetan pembakaran sampah atau serasah tebu yang tidak ditunggui secara maksimal.

“Pembakar mengira api pembakaran sudah mati total, padahal masih ada bara, sehingga begitu diterpa angin akan kembali terbakar dan mudah menjalar,” jelasnya.

Sementara untuk 11 kasus kebakaran rumah, hampir semuanya terjadi akibat korsleting atau hubungan singkat arus listrik. Tetapi menurutnya, mayoritas kebakaran rumah tidak merembet ke rumah yang lain, karena warga kini cenderung makin cekatan dalam melokalisasi api.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan