Timbunan Garam Krosok Petani Tak Banyak Terserap

Selasa, 23 Januari 2018 | 16:34 WIB

Pengemasan garam krosok di gudang garam milik Pupon di Dukuh Dresen Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

KALIORI, mataairradio.com – Timbunan garam krosok petani di Kabupaten Rembang tidak banyak terserap.

Sebab, order dari perusahaan pengolahan ikan pada saat ini sedang sepi akibat banyak nelayan yang tak melaut. Baik karena cuaca buruk maupun nelayan cantrang yang belum beroperasi.

Nawawi, pengusaha garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori mengaku memiliki 800 ton garam di gudangnya.

Biasanya, stok ini untuk melayani kebutuhan perusahaan pengolahan ikan. Namun karena sekarang sepi permintaan, stoknya tidak banyak bergerak.

“Kalau ada yang membeli, (timbunan) niatnya ya dijual. Ada dampak dari (belum beroperasinya) cantrang, tetapi sedikit,” ujarnya.

Pupon, pengusaha garam lainnya di Dukuh Dresen Desa Purworejo menyebutkan, harga garam krosok saat ini turun Rp600 per kilogram.

“Dua bulan yang lalu, harga garam krosok Rp3.000, tetapi kini tinggal Rp2.400 per kilogram,” katanya.

Penyebab turunnya harga garam krosok, menurut Pupon, juga karena sepinya permintaan.

Hampir semua perusahaan pengolahan ikan belum melakukan produksi secara normal.

Padahal, garam krosok diandalkan untuk usaha pengolahan ikan.

Sebelumnya, para petani garam yang menahan penjualan komoditasnya, sempat berharap harga garam akan melambung, seiring berlangsungnya musim penghujan.

Namun harapan itu mentah karena larangan penggunaan jaring cantrang secara efektif diterapkan oleh Pemerintah per 1 Januari 2018.

Hanya saja, belakangan, Pemerintah memutuskan membolehkan cantrang kembali beroperasi hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Sayangnya, hingga Selasa (23/1/2018) ini, nelayan cantrang belum bisa melaut lagi karena perizinan untuk berlayar dan penangkapan ikan belum bisa dilayani oleh pihak pelabuhan.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan