Tiga Perajin Batik Tulis Lasem Wakili Rembang di Inacraft

Rabu, 13 April 2016 | 16:52 WIB
Perajin batik tulis lasem. (Foto: Arif Bahtiar )

Perajin batik tulis lasem. (Foto: Arif Bahtiar )

 

REMBANG, mataairradio.com – Tiga orang perajin batik tulis lasem akan mewakili Kabupaten Rembang di International Handicraft Trade Fair atau Inacraft di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, 20-24 April mendatang.

Mereka adalah Hawin Wilopo dari Batik “Gunung Kendil” Kelurahan Leteh Kecamatan Rembang, Wiji dari Desa Babagan Kecamatan Lasem, serta Murwati dari Desa Gemblengmulyo Kecamatan Pancur.

Ketiganya terpilih lewat undian yang digelar oleh Koperasi Batik Lasem, yang kemudian diberangkatkan oleh pihak Pemkab Rembang.

Dihubungi reporter mataairradio pada Rabu (13/4/2016) sore, Hawin menyatakan sudah mempersiapkan diri mengikuti pameran kerajinan tangan unggulan paling bergengsi di Indonesia.

“Persiapan sudah 90 persen. Ini sudah mulai mengemas batik yang mau dibawa ke pameran nanti. Kami bertiga dan akan berada dalam satu gerai pameran,” terangnya.

Ia juga menyatakan gembira bisa unjuk gigi pada pameran besar dengan dibiayai oleh pihak Pemerintah Kabupaten Rembang dan masih diberikan uang saku serta diberikan biaya transportasi.

“Kalau menyewa dengan biaya sendiri, akan menyita banyak biaya karena satu stan harganya berkisar antara Rp15-30 juta. Selain itu, prosedurnya juga tidak gampang,” jelasnya.

Pada pameran nanti, Hawin mengaku akan mengusung batik dengan motif kombinasi antara khas laseman seperti sekar jagad dengan motif seperti naga dan leak bali.

“Saya usung batik lasem dengan kombinasi. Ada juga kombinasi dengan simbol surya Majapahit, sedangkan dua kawan saya, masih menampilkan corak khas Lasem,” tandasnya.

Selain membawa produk batik tulis lasem, ia juga mengaku menyiapkan ratusan kartu nama dan katalog batik tulis lasem produksinya agar mudah diakses pengunjung Inacraft.

“Harapannya, dengan ikut Inacraft ini, produk kami akan banyak dikenal oleh beragam kalangan, laku, dan tentu saja juga akan banyak pesanan,” tegasnya berharap.

Ditambahkannya, meski ditinggal selama lima hari di Inacraft, namun produksi batik tulisnya tetap berjalan karena dirinya telah memiliki beberapa orang tenaga pembantu.

“Saya sudah tinggalkan desain untuk digarap teman-teman pembatik di sini. Intinya produksi tetap jalan, meski saya tinggal untuk pameran,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan yang dihimpun, selama sekitar 11 kali Inacraft digelar, hampir selalu ada perwakilan perajin batik tulis lasem yang dikirimkan untuk mengikuti.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan