Tiba di Tuyuhan, Eks Anggota Gafatar Beber Pengalaman

Senin, 1 Februari 2016 | 16:13 WIB
Hesti Wardoyo dan istrinya kembali mengucapkan syahadat sebagai bentuk pertaubatan dan kembali kepada ajaran Islam, di Balai Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur, Minggu (31/1/2016) petang. (Foto: mataairradio.com)

Hesti Wardoyo dan istrinya kembali mengucapkan syahadat sebagai bentuk pertaubatan dan kembali kepada ajaran Islam, di Balai Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur, Minggu (31/1/2016) petang. (Foto: mataairradio.com)

 

PANCUR, mataairradio.com – Eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Hesti Wardoyo beserta istrinya Novilia Vina Mulyana dan anaknya, tiba di kampung halaman mereka di Dukuh Karanglo Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur, Minggu petang 31 Januari kemarin sekitar pukul 17.40 WIB.

Ketiganya dijemput dari penampungan eks anggota Gafatar di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, oleh Kepala Kantor Kesbangpolinmas Rembang Kartono dengan didampingi dua personel dari kepolisian resor setempat. Mereka tiba di Balai Desa Tuyuhan dan diserahterimakan kepada desa.

Di hadapan warga, tokoh agama dan masyarakat, serta pihak Pemerintah Desa Tuyuhan dan Kecamatan Pancur, Wardoyo mengatakan minta maaf atas kehadirannya yang membuat geger atau risau.

“Saya juga meminta maaf kepada kedua orang tua dan saudara-saudara saya di Desa Tuyuhan ini,” katanya.

Pada kesempatan itu, Wardoyo yang baru saja berulang tahun ke-27 pada 11 Januari lalu, membeberkan kegiatan dan pengalamannya sewaktu di Kalimantan.

Ia mengaku menangani penyulingan air irigasi. Aktivitasnya murni bercocok tanam, meski sempat pamit ke keluarga untuk mengajar.

Ia juga mengaku dipasrahi untuk membuat program ketahanan pangan. Tapi ia menyatakan tidak tahu kalau program itu bagian dari Gerakan Fajar Nusantara.

“Saya menanam 14 hektare padi, kacang panjang, cabai, terung, dan kangkung,” bebernya.

Kepada seluruh hadirin, ia pun mengaku baru tinggal selama tiga bulan di Kalimantan dan berangkat atas ajakan temannya.

Ia menegaskan tak ada arahan dari Pimpinan Gafatar untuk melakukan sesuatu di luar yang dikerjakannya bercocok tanam.

Kepala Desa Tuyuhan Mulyadi mengatakan, masyarakatnya bisa menerima kehadiran Hesti Wardoyo beserta keluarga tanpa ada perlakuan yang berbeda, dengan syarat tidak lagi ikut dalam kelompok atau organisasi yang dilarang pemerintah.

Wardoyo beserta keluarga diharapkan bisa membaur kembali bersama warga seperti biasa.

Acara pada petang itu ditutup dengan pengucapan kalimat syahadat oleh Wardoyo beserta istri, yang dipimpin oleh tokoh agama setempat sebagai bentuk taubat dan kembali kepada ajaran Islam.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan