Tersangka Maling Pompa Air Dinikahkan dalam Tahanan

Kamis, 1 Oktober 2015 | 18:07 WIB
NA mencium tangan suaminya KH yang ditahan karena disangka mencuri pompa air pada Agustus silam. Keduanya menikah di Mushala Polres Rembang, Kamis (1/10/2015) siang. (Foto: Pujianto)

NA mencium tangan suaminya KH yang ditahan karena disangka mencuri pompa air pada Agustus silam. Keduanya menikah di Mushala Polres Rembang, Kamis (1/10/2015) siang. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Seorang tersangka pencuri pompa air di Desa Sidorejo dan Japerejo Kecamatan Pamotan berinisial KH, Kamis (1/10/2015) siang dinikahkan dalam statusnya sebagai tahanan oleh penghulu dari KUA Pamotan.

Pernikahan KH dengan NA dilangsungkan di Mushala Polres Rembang. Sebelum dan sesudah akad nikah, penghulu sempat mengingatkan KH agar kapok dan bertaubat. Penghulu pun sempat bertanya kepada NA, apakah masih mau dinikahi KH. NA mengiyakannya.

Kapolsek Pamotan AKP Kisworo yang ikut menghadiri akad nikah mengatakan, pernikahan sudah direncanakan oleh pihak keluarga dan pihak mempelai pada 1 Oktober ini. Karena sudah dijadwalkan jauh hari, maka akad nikah tetap digelar meski status pengantin pria sebagai tahanan.

“Keluarga koordinasi dengan kami. Kami pun koordinasi dengan Pak Kasatreskrim dan Pak Kapolres soal akad nikah ini. Karena sudah rencana jauh hari, kita berikan kesempatan (untuk akad nikah),” katanya.

Kapolsek menuturkan, KH yang berusia 22 tahun merupakan warga Desa Samaran Kecamatan Pamotan. Perjaka ini menikahi gadis yang masih satu kampung. KH disangka mencuri pompa air di dua tempat kejadian yang berbeda pada bulan Agustus silam.

Tersangka sendiri baru dibekuk polisi pada 21 September lalu, berbekal informasi dari masyarakat. KH mengaku tidak beraksi sendirian. Masih ada dua orang teman pelaku, yang kini dalam perburuan polisi. Menurut AKP Kisworo, uang hasil pencurian dipakai tersangka untuk “ngopi”.

Padahal KH sehari-hari berprofesi sebagai sopir. Dari hasil pemeriksaan polisi, tersangka menjual pompa air hasil curian dengan harga Rp1,2 juta. KH dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian yang ancaman hukumannya maksimal 7 tahun penjara.

“Pengakuannya baru satu kali mencuri. Tetapi ada dua laporan. Dari Jumput (Sidorejo) dan Japerejo. Ini yang dua temannya masih buron. Kita kenai Pasal 363. Ancamannya 7 tahun penjara,” terang Kapolsek.

Setelah melangsungkan akad nikah, polisi memberi kesempatan kepada mempelai dan keluarga untuk sejenak berbincang. Tetapi tidak lama berselang, KH kembali dimasukkan ke dalam sel tahanan.

Keluarga dari mempelai pun pulang. NA dinikahi KH dengan mas kawin uang tunai Rp134 ribu. Penghulu sempat bertanya kepada KH soal asal uang yang dipakai sebagai mahar. KH menjawab uang itu dari orang tuanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan