Polisi Tetapkan Empat Tersangka Kasus Solar Ilegal

Selasa, 18 November 2014 | 15:39 WIB
Keempat tersangka pelaku kasus penyalahgunaan solar bersubsidi yang terbongkar di Pelabuhan Tanjung Bonang saat ditunjukkan kepada media pada Selasa (18/11/2014) siang. (Foto: Pujianto)

Keempat tersangka pelaku kasus penyalahgunaan solar bersubsidi yang terbongkar di Pelabuhan Tanjung Bonang saat ditunjukkan kepada media pada Selasa (18/11/2014) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Kepolisian Resor Rembang menetapkan empat orang tersangka dalam kasus solar ilegal atau penyalahgunaan solar bersubsidi di Pelabuhan Tanjung Bonang yang terbongkar Sabtu (15/11/2014) malam.

Empat orang tersangka kini mendekam di sel tahanan Mapolres Rembang. Selasa (18/11/2014) siang, mereka kembali diperiksa dan ditunjukkan kepada awak media.

Tersangka pelaku masing-masing GNO (34), warga Jalan Sawah Besar Gang II Kecamatan Gayamsari Semarang selaku pengemudi truk tangki bernomor polisi H 1770 ES dan SRY (39), warga yang sama dengan GNO, selaku pengemudi truk tangki bernomor polisi H 1883 AP.

Dua truk berikut isinya yang masing-masing 8.000 liter solar telah diamankan sebagai barang bukti. Kedua truk tangki warna biru itu diparkir di halaman Mapolres Rembang dan dipasangi garis batas polisi.

Adapun dua tersangka lain masing-masing WHY (37), warga Royal Park Kelurahan Sendangmulyo Kecamatan Tembalang Kota Semarang selaku penjual dan SPR (30) warga Kelurahan Magersari Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang selaku pembeli.

Sementara terhadap RYN (43), warga Kelurahan Sukatani Depok Jawa Barat yang diketahui sebagai Kepala Kamar Mesin (KKM) dari sebuah kapal yang diduga hendak dipasok solar diduga ilegal itu, masih diperiksa polisi sebagai saksi.

“(Ini barang) dari Semarang, (sengaja dengan) tujuannya Rembang. (Dipakai untuk mengisi) tugboat (penarik tongkang). (Cara membawanya) ya pakai truk tangki ini. (Muatannya) 8.000 liter per truk tangki. (Yang beli) Suparno. Saya tahunya memasarkan saja,” ungkap WHY kepada wartawan.

Wakil Kapolres Rembang Komisaris Polisi Wahyu Purwidiarso mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan intensif terhadap para tersangka pelaku, bahan bakar minyak jenis solar bersubsidi sedianya akan dijual ke pelaku industri melalui pelabuhan.

“Solar itu diperoleh dengan cara mengumpulkan sedikit-sedikit dari pengecer. Dibeli dengan harga Rp7.500 per liter. Rencananya akan dijual Rp10.000 per liter. Harga solar industri kan Rp13.000 per liter,” ungkapnya.

Dia menyebut, persoalan penyalahgunaan BBM bersubsidi telah menjadi atensi atau perhatian pimpinan kepolisian. Wahyu juga menyebut Rembang cukup rawan peredaran solar ilegal mengingat adanya pelabuhan dan kawasan industri.

“Kemungkinan tersangka lain masih harus kami dalami, termasuk pihak SPBU di Semarang yang bisa jadi terlibat. Kita baru memeriksa dua hari terakhir ini kan,” tandasnya.

Polisi menjerat empat tersangka tersebut dengan Pasal 55 subsider Pasal 53 huruf b, huruf d, juncto Pasal 23 ayat (2) huruf b, huruf d Undang-Undang 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

“Yang Pasal 55 ancamannya enam tahun penjara, sedangkan Pasal 53 ancaman hukumannya maksimal empat tahun penjara,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan