Terkendala Operasional, Bus Sekolah Belum Terealisasi

Rabu, 30 Oktober 2019 | 16:53 WIB

Ilustrasi. Sebagian siswa di Kabupaten Rembang masih memanfaatkan layanan mobil bak terbuka atau pikap guna berangkat atau pulang ke sekolah. (Foto: mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – Banyaknya pengendara di bawah umur atau kategori anak sekolah yang mengendarai kendaran bermotor merupakan permasalahan kompleks yang dihadapi oleh pihak Satlantas. Dalam catatan terakhir pada Operasi Zebra 2019 rata-rata ada 200 pelanggaran yang terjadi dalam sehari.

Kasat Lantas pada Polres Rembang AKP Roy Irawan menyatakan bahwa pihaknya mendapat banyak keluhan dari warga terkait operasi yang menyasar anak sekolah. berbagai argumentasi disampaikan seperti telat sekolah, angutan umum yang semakin sedikit dan orang tua yang pergi bekerja.

Kepala Dinsos PPKB Sri Wahyuni menyatakan jika problem banyaknya anak sekolah yang menggunakan kendaraan bermotor sudah dicarikan solusi oleh Pemkab, diantaranya adalah mengadakan bus sekolah yang tugasnya menjemput anak-anak sekolah agar aman dari potensi bahaya yang ada di jalan.

Bus sekolah tersebut sudah dianggarkan tahun 2018 lalu, namun menurutnya ada beberapa kendala sehingga proyek tersebut belum atau tidak terealisasi. Salah satunya adalah kendala operasional yang cukup besar.

“Sudah dianggarkan pada tahun 2018, namun pihak mana yang akan mengelola belum diputuskan, selain itu operasional yang besar juga menjadi pertimbangan sehingga rencana ini belum terealisasi,” ungkapnya pada acara dialog Criminal Justice System (CJS) pada Rabu (30/10/2019) pagi di utara alun-alun Rembang.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas perhubungan Daenuri menyatakan banyak pertimbangan dalam pengadaan bus sekolah tersebut. Diantaranya protes dari sopir angkutan yang merasakan sepinya penumpang sehingga pendapatan berkurang. Anak-anak sekolah lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi untuk berangkat sekolah.

Alasan lain senada dengan Sri Wahyuni yaitu operasional bus sekolah yang cukup tinggi baik itu gaji sopir, bensin maupun perawatan padahal diketahui bersama APBD Rebang 2018 mengalami defisit. Untuk pembelian bus sekolah mungkin terjangkau namun anggaran operasional dan perawatan bisa membengkak.

“Kalau belinya mungkin murah Mas, namun perawatannya bisa mahal banget,” ungkapnya.

Akan tetapi pihaknya saat ini sedang mengajukan bantuan bus sekolah pada Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan untuk meringankan beban anggaran APBD Rembang yang mengalami defisit. Dishub Rembang mengajukan enam bus untuk tahun anggaran 2020.

“Ya kita kan tahu jika APBD Rembang kemarin mengalami defisit, maka kita pertimbangkan untuk pengadaan bus, walaupun sudah dianggarkan sejak 2018 lalu. Kalau busnya cuma satu kan juga lucu mas,” pungkasnya.

Penulis : Mohamad Siroju Munir
Editor: Mohamad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan