Tenggak Oplosan, Seorang Warga Rendeng Kritis

Selasa, 1 April 2014 | 14:29 WIB
Kapolsek Sale AKP Isnaeni. (Foto: Pujianto)

Kapolsek Sale AKP Isnaeni. (Foto: Pujianto)

SALE, MataAirRadio.net – Seorang warga RT 7 RW 1 Desa Rendeng Kecamatan Sale tergolek lemas cenderung kritis di RSUD dr R Soetrasno Rembang, Selasa (1/4) siang. Dia adalah Nur Salim. Bujang 19 tahun ini, harus dirawat intensif oleh tim medis setelah menenggak minuman beralkohol tinggi dan oplosan.

Sebenarnya tidak hanya Nur Salim yang menjadi korban minuman setan ini. Ada dua orang teman korban yang menenggak minuman serupa. Namun keduanya hanya sempat mendapat perawatan di Puskesmas Pamotan, sebelum kemudian diperbolehkan pulang.

Kapolsek Sale AKP Isnaeni mengatakan, minuman keras atau yang beralkohol tinggi dan oplosan dikonsumsi sebagai pelarian. Padahal itu justru merugikan peminum sendiri dan keluarga. Atas hal ini, polisi akan semakin menggencarkan razia peredaran miras, terutama kepada bakul jamu. Menurutnya, peran tokoh masyarakat dan agama penting untuk mengingatkan mereka.

Peredaran minuman keras seperti oplosan terbilang cukup marak di perdesaan. Pihak Polsek Sale mengklaim sudah menggiatkan terus penertiban atau razia peredaran miras. Menurutnya, minuman beralkohol tinggi disinyalir beredar di kalangan warung kopi. Namun belum ada temuan.

Kapolsek Sale AKP Isnaeni mengaku menyoroti praktek jual beli miras di warung kopi. Soal peredarannya di kafe, Isnaeni menampiknya. Sebab, tidak ada kafe di wilayah hukumnya. Ada satu kafe di bilangan Wonokerto, namun sudah ditutup.

Menurut Kapolsek, sebelum kasus oplosan kali ini, belum pernah ada kasus peminum hingga kritis akibat menenggak oplosan. Dia mengingatkan kepada warga agar tidak mengonsumsi minuman yang justru merusak diri sendiri.

Minuman keras jenis oplosan tercatat telah merenggut puluhan nyawa warga di Jawa Timur. Terakhir kali, dalam kurun empat hari sejak 4 Januari 2014 lalu, 17 orang di Mojokerto, tewas akibat meminum miras oplosan. Warga di Kabupaten Rembang diharapkan bisa memetik pelajaran dari kasus tersebut. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan