Temuan Kuno Bernilai Sejarah di Bonang Diabaikan

Thursday, 16 November 2017 | 18:53 WIB

Temuan sumur tua berstruktur bata kuno ditemukan di tegalan; arah menuju makam Sultan Mahmud atau Mbah Jejeruk saat ditinjau petugas dari BP3 Jawa Tengah. (Foto: mataairradio.com)

 

LASEM, mataairradio.com – Sejumlah temuan kuno bernilai sejarah di Desa Bonang Kecamatan Lasem terkesan diabaikan. Temuan berupa gentong, pecahan gerabah kuno, dan sumur tua berstruktur bata kuno diduga peninggalan era Majapahit, tidak mendapat perhatian.

Sebelumnya, gentong dan pecahan gerabah kuno ditemukan di sebelah barat Desa Bonang, sedangkan sumur tua berstruktur bata kuno ditemukan di tegalan; arah menuju makam Sultan Mahmud atau Mbah Jejeruk.

Kepala Desa Bonang Syaiful Shodikin mengungkapkan, temuan gentong kuno kini tidak lagi diketahui keberadaannya. Benda kuno yang pernah diteliti oleh Balai Arkeologi ini, tertimbun tanah. Bahkan diduga telah lenyap karena lapuk tak terurus.

“Untuk temuan sumur yang ada struktur bata kuno, kondisinya masih bagus, karena dijaga oleh masyarakat setempat. Akses untuk menuju kelokasi sudah kami bangun dengan dibeton sepanjang 750 meter,” terangnya kepada mataairradio.com.

Shodikin mengakui, saat-saat awal penemuan, pihak Pemkab Rembang bersama Balai Arkeologi Jawa Tengah, memang beberapa kali datang meninjau. Namun sejauh ini, tindak lanjutnya masih belum jelas.

Padahal menurut Kepala Desa, jika sumur tua kuno itu diekskavasi atau digali lebih lanjut, dimungkinkan ada keterkaitan dengan bangunan lain di sekitarnya. Ia berharap, Pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kembali berpikir mengenai kelanjutan temuan tersebut.

“Saya minta Pemkab atau Pemerintah Pusat memberi perhatian. Apalagi saat ini sektor wisata menjadi sektor unggulan. Paling tidak, ada sentuhan, seperti dibuatkan rumah kecil di area temuan sumur kuno itu, sehingga setiap orang tertarik datang,” tandasnya.

Sementara itu, atas harapan Pemerintah Desa Bonang ini, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, belum memberikan tanggapan. Kepala Dinbudpar Dwi Purwanto yang dihubungi pada Kamis (16/11/2017) siang, belum membalas permintaan tanggapan atas harapan masyarakat tersebut.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan