Ratusan Kilogram Tembakau Petani Rembang Ditolak Sadana

Senin, 11 Agustus 2014 | 15:47 WIB

 

Suasana gudang pembelian tembakau milik PT Sadana Arif Nusa di bilangan Desa Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Pujianto)

Suasana gudang pembelian tembakau milik PT Sadana Arif Nusa di bilangan Desa Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Pujianto)

SULANG, MataAirRadio.net – Ratusan kilogram tembakau milik petani di Kabupaten Rembang ditolak oleh perusahaan mitra mereka, PT Sadana Arif Nusa. Tembakau yang dikembalikan lagi ke petani ini lantaran berkualitas rendah dan jelek. Sebelumnya petani sudah dikabari, jika tembakau berkualitas jelek tidak akan dibeli.

Sukardi, salah satu petani asal Randuagung Kecamatan Sumber yang tembakaunya ditolak mengakui, memang sudah ada peringatan sebelumnya soal tidak akan dibelinya tembakau yang kualitasnya jelek. Dari delapan bal atau sekitar 400 kilogram tembakau yang dijualnya pada Senin (11/8) pagi, satu bal atau sekitar 50 kilogram di antaranya yang tidak dibeli. Tembakau yang jelek tampak antara lain dari warnanya yang hitam.

Dia pun mengaku sempat mencampurkan tembakau yang berkualitas jelek ke tembakau yang berkualitas baik. Namun tetap saja ketahuan petugas Sadana. Dia berharap tembakau yang berkualitas rendah tetap bisa dibeli perusahaan, meski dengan harga murah agar petani tidak merugi. Dia menyebut baru dua kali petik dari tujuh hingga delapan petik yang seharusnya.

Berdasarkan pantauan langsung di gudang pembelian tembakau milik PT Sadana Arif Nusa di bilangan Desa Landoh Kecamatan Sulang, petani berjubel di areal gudang untuk menjual hasil panen mereka. Antrean kendaraan memanjang hingga lebih dari 500 meter di sebelah kanan dan kiri jalan.

Setidaknya ada belasan bal tembakau milik para petani yang dikembalikan karena berkualitas jelek. Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Rembang Maryono mengatakan, mereka yang nekat menjual tembakau meski berkualitas jelek, umumnya merupakan petani baru.

Menurutnya, sosialisasi tentang tidak akan dibelinya tembakau berkualitas rendah telah dimulai sejak dua tahun yang lalu. Dia menyebut, tembakau yang berkualitas jelek biasanya merupakan daun bawah yang nekat saja dirajang padahal mestinya tidak. Meski demikian, pihaknya akan melobi perusahaan agar membuat kebijakan lain terhadap tembakau petani yang berkualitas jelek.

Sementara itu, hingga Senin (11/8) siang, kualitas tembakau petani di Kabupaten Rembang masih masuk dalam kelompok F. Ada tiga jenis F yakni F1, F2, dan F3 yang merupakan kelompok kualitas biasa. Masih sedikit tembakau petani dengan kualitas setingkat di atasnya atau jenis P, baik P1, P2, dan P3.

Sebagian petani yakin, apabila masuk ke perajangan daun tengah dan cuaca tidak hujan, maka tembakau mereka bisa masuk ke kualitas super atau s, baik S1, S2, maupun S3, bahkan SP atau kualitas terbaik. Soal harga per kilogram dari masing-masing kelompok, perusahaan belum membeberkan. Hanya saja, dari petani yang baru saja menjual, tembakaunya jenis F rata-rata dibeli Rp20.000 per kilogram. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan