Tekan Potensi Penyimpangan, Proyek Alun-alun Diinspeksi Ketat

Rabu, 29 Oktober 2014 | 18:44 WIB
Tanah merah yang digunakan untuk menguruk permukaan bagian tengah Alun-alun Rembang dan mengundang pertanyaan dari DPRD. (Foto: Pujianto)

Tanah merah yang digunakan untuk menguruk permukaan bagian tengah Alun-alun Rembang dan mengundang pertanyaan dari DPRD. (Foto: Pujianto)


REMBANG, mataairradio.com
– Pihak DPRD Kabupaten Rembang tidak menginginkan terjadinya penyimpangan pada pelaksanaan proyek penataan alun-alun. Komisi C berjanji akan melakukan pengawasan secara lebih ketat untuk menekan potensi penyimpangan yang mungkin terjadi.

“Alun-alun ini adalah wajah Kabupaten Rembang, sehingga pelaksanaannya tidak boleh asal. Kami juga tak ingin ada penyimpangan. Pengawasan jelas akan kami intensifkan. Setelah inspeksi kemarin (28/10/2014), kami susun rencana untuk pengawasan lagi,” kata Ketua Komisi C DPRD Rembang Widodo.

Dia juga mengatakan, pengawasan lanjutan diperlukan karena pihak pengawas maupun pelaksana proyek belum memberikan penjelasan yang akurat soal alasan dibongkarnya bagian bangunan yang dibuat di tahap pertama, pada penataan tahap kedua atau tahap akhir ini.

“Kami sempat tanya alasan bangunan lama dibongkari. Namun saya sendiri belum mendapat jawaban yang akurat. Soal kualitas material, hemat kami sudah lumayan baik. Misalnya pemasangan batu alam, sudah lumayan,” katanya.

Meski demikian, Ismari, anggota Komisi C sempat menyoal pula alasan penggunaan tanah merah untuk menguruk permukaan tengah alun-alun. Menurut Ismari, mestinya tanah jenis hitam yang digunakan.

“Semestinya tidak tanah merah yang digunakan untuk menguruk bagian tengah itu. Tanah hitam akan lebih baik dan tampak teduh. Sempat kami tanyakan seperti itu, namun penjelasan dari petugas di alun-alun kemarin, juga tak maksimal,” imbuhnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Penataan Tahap Kedua Alun-alun Rembang Sigit Widyaksono menyatakan bahwa apa yang dilakukan terkait dengan penataan alun-alun senilai Rp3,5 miliar, sudah sesuai ketentuan.

“Soal pemilihan tanah, secara perencanaan sudah sesuai. Memang ada tanah tambak dan tanah lanau. Kita gunakan tanah jenis ini, jelas sudah sesuai aturan main. Penjelasan teknisnya, saya nggak bisa sampaikan. Bukan pada kapasitas saya,” katanya.

Dia mengakui, saat melakukan inspeksi secara mendadak di proyek penataan Alun-alun Rembang, kemarin (28/10/2014), memang ada wanti-wanti dari pihak Komisi C DPRD.

“Intinya mereka mengingatkan agar pelaksanaan proyek alun-alun bisa selesai tepat waktu (16 Desember 2014). Kontrol perlu dilakukan secara rutin. Dan kami sendiri senang dengan pengawasan semacam ini agar hasilnya baik,” tandasnya.

Soal pembongkaran di sejumlah titik bangunan lama, pihaknya tidak menjelaskan secara rinci. Dia hanya merapikan beberapa titik yang bisa mengganggu penataan.

“Kita lakukan beberapa penyesuaian. Seperti lampu kemarin juga kita ganti, karena setelah terpasang, ternyata bentuknya terlalu kecil. Kita pesankan lagi agar tampak lebih baik. Progress proyek, secara keseluruhan, kini telah mencapai 75 persen,” pungkasnya.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan