Tekan Pencabulan, Semai: Ortu Jangan Terlalu Materialistis

Minggu, 26 Oktober 2014 | 19:02 WIB

 

Ilustrasi (Foto:metropolitanonline.co)

Ilustrasi (Foto:metropolitanonline.co)

 

REMBANG, mataairradio.com  Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Semai, lembaga yang fokus pada peran pendampingan perempuan dan anak di Kabupaten Rembang, menyebut orang tua yang terlalu fokus berkarier berpotensi mengorbankan anak pada ancaman tindak kekerasan, salah satunya pencabulan.

“Saat ini, banyak orang tua yang disibukkan untuk mencari materi guna memenuhi kebutuhan. Lebih materialistis daripada mendampingi anak,” kata Agung Ratih Kusumawardhani, sukarelawan psikolog Semai yang diminta tanggapannya mengenai perilaku orang tua yang memberikan ruang kekerasan anak.

Dia menyarankan agar orang tua lebih dekat dengan anak secara psikologis. Hal ini, menurut Ratih diperlukan agar orang tua bisa mengikuti secara cermat perkembangan anaknya.

“Orang tua agar juga tidak percaya begitu saja terhadap orang yang di sekeliling anak. Bukannya suuzan, tetapi memang harus waspada,” tandasnya.

Dalam hal menekan potensi kekerasan terhadap perempuan dan anak, Semai, menurut Ratih juga berharap agar Pemerintah Kabupaten Rembang, lebih mempererat jejaring dengan pihak kepolisian, kejaksaan, pengadilan negeri, dan rumah sakit.

“Sistemnya ‘on call’ (siap panggil), sehingga agar potensi kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa terus ditekan, maka tugas pokok dan fungsi instansi di pemerintah agar dimaksimalkan. Di Semai sendiri, kita membela anak dalam ‘frame’ sebagai korban; korban keadaan sosial,” katanya.

Semai yang merupakan bagian dari tangan Pemerintah Kabupaten Rembang menyebutkan bahwa kini sudah ada posko kekerasan di setiap kecamatan dan ada KPAD di tingkat desa.

“Pemkab perlu pula memaksimalkan keberadaan dan peran komisi perempuan dan anak di tingkat desa (KPAD). KPAD perlu ada di setiap desa untuk membangun kesadaran, agar masyarakat lebih peduli pada lingkungan, terutama terhadap hak dan pelanggaran terhadap perempuan dan anak,” imbuhnya.

Sementara itu, terhadap kepolisian, Ratih berharap agar penegakan hukum terhadap pelanggaran hak perempuan dan anak, terus ditegakkan. Meskipun, diakuinya, secara putusan hukuman, di Rembang, vonis terhadap pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak, sudah cukup tinggi.

“Saran kemudian, agar pihak kepolisian bebas dari intervensi berbagai pihak yang ingin menghambat proses hukum terhadap kasus perempuan dan anak di Rembang. Kalau soal sanksi sih, selagi kasusnya adalah asusila atau kekerasan terhadap perempuan dan anak, kita minta (hukuman) maksimal,” katanya.

Di Rembang, kasus kekerasan terhadap anak, khususnya kasus asusila, cukup tinggi. Seminggu terakhir saja, sudah ada tiga kasus pencabulan terhadap anak yang diungkap dan dilaporkan ke Polres Rembang.

Sejak 2008-2013, tercatat sebanyak 65 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), 136 kasus yang melibatkan anak sebagai tersangka, dan 112 kasus yang menempatkan anak sebagai korban.

Berdasarkan sumber data yang dirangkum dari catatan pihak Polres Rembang, 136 kasus KDRT, 73 persen merupakan perempuan korban kekerasan fisik dan 27 perempuan korban penelantaran ekonomi.

Sementara kasus yang melibatkan anak sebagai tersangka, sebanyak 93 persen merupakan perkara pengeroyokan, sedangkan tujuh persen sisanya adalah perkara pencurian.

Adapun dari rentetan kasus yang menempatkan anak sebagai korban, 84 persen perempuan korban persetubuhan terhadap anak di bawah umur dan 16 persen korban anak pengeroyokan.

 

Penulis: Pujianto

Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan