Tebar Pesan Perdamaian, Pasutri Ngontel Keliling Dunia

Sunday, 25 December 2016 | 22:02 WIB
Hakam Mabruri dan istrinya, Rofingatul Islamiah berfoto bersama dengan para Sahabat Ansor dan Banser di Kabupaten Rembang seusai sowan singgah di kediaman Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri, Sabtu (24/12/2016) sore. (Foto: Pujianto)

Hakam Mabruri dan istrinya, Rofingatul Islamiah, berfoto bersama dengan para Sahabat Ansor dan Banser di Kabupaten Rembang seusai sowan singgah di kediaman Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri, Sabtu (24/12/2016) sore. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kekerasan mengatasnamakan agama dan perilaku intoleran antarumat beragama di dunia membetot perhatian sepasang suami istri berasal dari Desa Gading Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34), duduk di sadel sepeda tandem, melakukan perjalanan keliling dunia guna menebarkan pesan perdamaian antarumat beragama. Sabtu (24/12/2016) sore hingga Ahad (25/12/2016) pagi, keduanya singgah di Rembang.

“Saya berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Ini istri saya, (Rofingatul) Islamiah. Setiap hari kami menempuh perjalanan dengan bersepeda selama 70 kilometer. Perjalanan ini, insyaAllah akan sampai Kairo (Mesir),” ujar Hakam kepada mataairradio.com.

Senyum tampak mengembang di wajah keduanya, meskipun perjalanan untuk misinya itu diperkirakan menempuh waktu selama setahun. Dua insan ini pun tampak kompak ketika meladeni pertanyaan seputar latar belakang perjalanannya.

“Bobot sepeda sekitar 20 kilo. Bekal sekitar 50 kilo. Sepeda ini sebelumnya di-custom oleh pabrik yang mendukung misi saya. Jadi disesuaikan dengan berat badan saya dengan istri yang masing-masing sekitar 45 kilo,” ujar mereka yang berlatar belakang santri.

Hakam yang juga aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor Malang ini mengaku telah menyiapkan diri selama beberapa bulan, termasuk fisik, mental, dokumen, dan logistik selama perjalanan. Meskipun, pada 2012 atau sebelum menikah, ia sudah pernah keliling ASEAN juga dengan bersepeda.

“2012 saya pernah keliling ASEAN guna kampanye penyelamatan penyu. Saya mengajak warga untuk tidak mengonsumsi telur penyu. Penyu itu memakan racun di laut. Kalau penyunya hilang, racun di laut siapa yang makan. Nelayan jadi terancam racun. Kan kasihan,” ujarnya mengenang.

Hakam yang saat ini masih kuliah di Universitas Islam Raden Rahmat Malang mengaku akan membawa pesan perdamaian ke semua agama dan suku di negara-negara yang dilintasi. Ia akan membagikan brosur berisi ajakan hidup damai, membangun toleransi, dan merawat keberagaman.

Kampanye akan dilakukan melalui sejumlah kelompok agama. Komunitas sepeda dan Peace Generation beranggotakan komunitas agama yang tersebar di seluruh dunia akan membantu mereka berinteraksi.

“Kami yakin ada sisi yang sama dari antarumat beragama. Kami percaya mereka yang beragama ini menyembah Tuhan yang Esa. Itu yang akan kami tebar sebagai perajut perdamaian antarumat beragama,” katanya.

Perjalanan dimulai dengan rute ke makam Wali Songo, berziarah ke makam Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gresik, Sunan Giri (Gresik), Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga (Demak), dan Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Ia mengatakan, tujuan berziarah untuk membawa spirit Wali Songo yang menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan, sehingga tidak ada kekerasan dan mencegah perpecahan antarumat beragama.

“Kami juga sowan ke kyai atau tokoh-tokoh NU. Kami tahu NU itu moderat dan toleran. Seperti sekarang. Kami sowan ke Gus Mus (KH Ahmad Mustofa Bisri, red.). Semoga menjadi inspirasi bagi kami dalam menempuh perjalanan ini,” katanya saat sowan ke kediaman Gus Mus.

Mereka pun mengaku ingin menghapus stigma terhadap Islam yang dianggap penuh dengan kekerasan, dekat radikalisme, dan terorisme. Islam di Indonesia, katanya, bersahabat dan mengedepankan perdamaian.

“Dari Cirebon, kami akan ke Jakarta dan menyeberang ke Pulau Sumatera serta meninggalkan Indonesia melalui Aceh. Rencana kami akan juga masuk Myanmar, guna menyerukan perdamaian agar tidak ada lagi kekerasan termasuk yang dialami etnis muslim Rohingya,” katanya.

Namun jika tidak memungkinkan masuk Myanmar, mereka akan menyeberang dari Kuala Lumpur langsung ke Kathmandu, Nepal, menumpang pesawat terbang.

Mereka juga akan melakukan perjalanan spiritual ke Makkah dan Madinah, untuk menunaikan ibadah umroh. Kemudian, katanya, melanjutkan perjalanan ke Israel melalui Yordania. Namun mereka tidak akan menyeberang ke Jalur Gaza.

Menurutnya, dana guna membiayai perjalanan bersepeda bersama sang istri berasal dari sumbangan dan penjualan cinderamata “Holy Journey Cycling Trip”. Hakam dan Rofingatul yakin akan banyak dukungan dan bantuan di sepanjang perjalanan.

“Kami pasrah pada Allah. Mau ditidurkan dimana dan mau digerakkan kemana. Kemarin di daerah Tuban, kami tidur di kawasan SPBU. Pernah juga tertidur di makam, bahkan di pasar. Soal mandi, sewaktu dari Tuban ke Rembang, saya banyak mandi. Panas,” katanya.

Sementara itu, Rofingatul mengaku telah mempersiapkan fisik dan psikis untuk bersepeda dengan suaminya. Ngontel keliling dunia ini sekaligus untuk menguatkan jiwanya setelah anak pertamanya lahir prematur dan meninggal serta keguguran saat mengandung anak kedua.

“Cak Hakam sudah saya pilih sebagai imam saya. Saya makmumnya, tentu saya mengikuti. Ini pendidikan keimanan kita. Saya belajar tentang pergerakan. Tidak ada komplain dari keluarga. Semua mendukung dan mendoakan,” ucap Islamiah saat ditanya kenapa mau diajak bersepeda.

Ia berharap perjalanan mereka lancar dan tidak ada halangan. Seluruh perbekalan telah disiapkan, meliputi pakaian, obat-obatan, makanan, suku cadang sepeda, tenda dan perlengkapan lain.

Menurutnya, tidak banyak bekal yang dibawa karena menyesuaikan dengan kantung tersedia di sepeda. Mereka juga telah mengurus visa untuk masuk ke sejumlah negara yang akan dilaluinya.

“(Untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal) Saya berbahasa Inggris, suami berbahasa Arab,” katanya yang asli dari Trenggalek, Jawa Timur.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Rembang Hanies Cholil juga membantu misi perdamaian dunia lintas agama, termasuk perjalanan yang dilakukan Hakam bersama istrinya selama singgah di daerah ini.

“Di Rembang, sahabat-sahabat Ansor menyambut Sahabat Hakam. Kami senang mereka akhirnya mau bermalam di sini. Tadi malam pun sempat ketemu dengan pihak Paroki di Rembang untuk menyampaikan pesan perdamaian antarumat beragama,” katanya.

Hanies berharap pesan perdamaian pasangan suami istri itu tepat sasaran dan sesuai dengan misi yang diembannya. Ia pun turut mendoakan agar keduanya sehat dan selamat sepanjang perjalanan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan