Suplier Solar Nonsubsidi di Rembang Terancam Gulung Tikar

Friday, 5 January 2018 | 17:51 WIB

Aktivitas suplai solar nonsubsidi di Dermaga Tasikagung, Rembang, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sepuluhan suplier solar nonsubsidi di Kabupaten Rembang terancam gulung tikar seiring larangan penggunaan jaring cantrang mulai 1 Januari lalu.

Ahmad Subekhi, salah seorang suplier menjelaskan, kapal cantrang di Rembang, rata-rata berbobot mati di atas 30 grosston, sehingga wajib menggunakan solar nonsubsidi.

Begitu kapal-kapal ini berhenti melaut, maka suplai solar nonsubsidi pun terhenti. Padahal sebelumnya, tiap hari dirinya memasok solar untuk tujuh kapal cantrang.

“Tiap kapal 8.000 liter setiap kali isi. Sekarang nggak ada aktivitas sama sekali,” katanya kepada mataairradio, Jumat (5/1/2017).

Menurut Subekhi, solar nonsubsidi sebenarnya bisa dipakai untuk kapal jenis mini purseseine.

“Namun di Rembang, kebanyakan kapal purseseine berbobot mati di bawah 30 groston, sehingga pakai solar bersubsidi,” katanya.

Kini dirinya harus mencari cara lain, agar usahanya tetap berjalan, di antaranya dengan membidik pabrik-pabrik.

Upayanya itu pun butuh bantuan Pemerintah. Sebab, harga solar subsidi dengan nonsubsidi terpaut jauh.

“Solar subsidi Rp5.150 per liter, sedangkan solar nonsubsidi Rp6.500-an per liter,” katanya.

Mengenai suplai solar nonsubsidi untuk kapal tongkang, mengingat di Rembang ada PLTU Sluke, Subekhi menyebut susah untuk menembus.

Sebab, kapal-kapal tongkang itu, umumnya sudah terlibat kerjasama dengan suplier dari Surabaya.

“Katanya, solar nonsubsidi dari Surabaya lebih murah,” katanya.

Ia pun berharap kepada Pemerintah agar melakukan pembatasan, sehingga kapal-kapal di Jawa Tengah hanya bisa dilayani dengan solar yang notabene di provinsi sendiri.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan