Stok Menipis, Rembang Ajukan Impor Garam

Rabu, 1 November 2017 | 16:07 WIB

Garam briket yang diproduksi oleh Pupon di Dukuh Dresen Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. Usaha produksi itu terancam menyusul tutup seiring nyaris habisnya stok garam di seluruh petani setempat. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) setempat mengajukan impor garam.

Pasalnya, suplai garam lokal sudah menipis, seiring hujan yang beberapa kali mengguyur, sehingga stok garam di gudang petani pun terpantau rata-rata kosong. Kalau pun ada itu milik produsen.

Kepala Seksi Industri Agro pada Dinperindagkop dan UKM Kabupaten Rembang Sulistyo mengonfirmasi sudah ada beberapa produsen yang mengajukan impor garam, namun belum ada realisasi.

“Pemegang kebijakan untuk distribusi impor garam dari PT Garam. Kita mengajukannya ke sana. Rekomendasinya sudah. Persyaratan juga sudah. Namun belum ada direalisasi,” katanya, Rabu (1/11/2017).

Syarat perusahaan mengajukan impor garam, menurutnya, antara lain produksi garamnya sudah mengantongi SNI dan memiliki izin produksi. Di Rembang, hampir semua produsen telah punya SNI.

Sebelumnya, Rembang telah mengajukan kuota impor garam sebesar 5.500 ton. Namun PT Garam merealisasi 1.500 ton, dan telah habis untuk produksi, sedangkan 4.000 ton sisanya masih belum dipasok.

“Yang jelas, saat ini, di tingkat produksi, mereka masih mampu. Tapi sudah ada beberapa petani yang stok di gudangnya habis, atau tersisa beberapa ton saja karena produksi pada musim ini, minim,” katanya.

Seorang pengusaha pergaraman, Nawawi, membenarkan bahwa rata-rata petani tidak memiliki stok garam di gudang. Secara produksi, petani tidak mampu menghasilkan garam secara besar-besaran.

“Karena cuaca panasnya tidak terlalu lama, rata-rata petani tidak sampai mampu menyetok di gudang. Rata-rata gudang, kosong. Namun secara harga, petani puas, karena harganya terus tinggi,” katanya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan