Stok Melimpah, Mahasiswa di Rembang Tolak Rencana Impor Beras

Kamis, 18 Maret 2021 | 22:53 WIB

Lahan padi milik warga di Desa Kasreman-Rembang mulai memasuki masa panen, setidaknya sudah berlangsung sejak awal Maret 2021. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sejumlah mahasiswa di Kabupaten Rembang yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Petani (Gema Petani), menolak keras kebijakan pemerintah yang akan mengimpor beras sebanyak sekitar satu juta ton pada awal tahun ini.

Salah satu mahasiswa di Rembang yang tergabung dalam Gema Petani, M. Heryan Mushozin menegasakan, pihaknya menolak rencana pemerintah yang akan mengimpor beras.

Ia mengatakan, rencana impor beras pada masa panen raya seperti saat ini tentu akan membawa dampak buruk terhadap petani nasional.

Menurut Heryan yang juga sebagai Ketua Persiapan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gema Petani Provinsi Jawa Tengah, fenomena rencana impor beras harus menjadi perhatian semua elemen masyarakat, khususnya para mahasiswa yang memiliki peran penting sebagai agen kontrol sosial.

“Tak hanya tanggung-jawab Gema Petani saja, tetapi fenomena ini seharusnya menjadi fokus semua masyarakat, terutama mahasiswa sebagai agen kontrol kebijakan. Mengimpor beras pada masa panen raya seperti ini, tentunya akan menyengsarakan petani kita,” tegasnya.

Anas Sodikin Koordinator Presidium Nasional Gema Petani menjelaskan upaya yang diambil pemerintah ihwal rencana impor beras, jelas akan menimbulkan efek buruk kepada nasib petani.

“Pemerintah berencana mengimpor satu juta ton beras tahun ini. Tentu ini dipertanyakan banyak pihak, mengingat produksi beras dalam negeri sepertinya masih mampu mencukupi kebutuhan masyarakat,” terangnya melalui siaran pers.

Dia mengungkapkan, para petani jelas menyesalkan rencana tersebut dimana rencana tersebut muncul ketika para petani akan melakukan panen raya yang jatuh di bulan Maret-April.

“Pengumuman impor beras sebanyak 1 juta ton akan memengaruhi psikologi pasar yang cenderung menurunkan harga jual di tingkat petani,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah tidak melakukan analisis mendalam terkait ketersediaan pangan dalam negeri. Menurutnya, sebenarnya saat ini terjadi kenaikan jumlah produksi beras dalam negeri.

Anas membeberkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Maret lalu, potensi produksi padi Januari-April 2021 diperkirakan mencapai 25,37 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

“Artinya potensi produksi beras sepanjang Januari-April 2021 mencapai 14,54 juta ton beras. Ini naik sebesar 3,08 juta ton dibandingkan tahun 2020 lalu. Lantas, mengapa harus impor?” tegasnya.

Anas menambahkan, tidak adanya kebijakan pangan yang strategis untuk membangun kedaulatan pangan di Indonesia adalah karena sampai hari ini pemerintah belum membentuk Badan Pangan Nasional yang berperan dan berfungsi mengambil kebijakan pangan di Indonesia sesuai dengan mandat Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan.

“Gema Petani mendesak pemerintah harus berkomitmen penuh menjalankan visi kedaulatan pangan dalam sistem pangan di Indonesia,” tutupnya.

Gema Petani sendiri adalah organisasi mahasiswa yang baru saja berkongres pada 24-26 Februari 2021 lalu di Jambi. Gema Petani tersebar di 13 provinsi di Indonesia yang terbentuk melalui mandat Surat Keterangan (SK) Pleno Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI).

Sementara itu, (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto mengatakan, produksi gabah dan beras di kabupaten ini melimpah.

Bahkan jumlahnya surplus, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal hingga 17 bulan ke depan.

“Produksi gabah dan beras kita surplus, cukup untum memenuhi kebutuhan lokal sampai-dengan 17 bulan ke depan,” terangnya.

Berdasarkan data yang diterima mataairradio.com dari Dintanpan Rembang, harga gabah kering panen (GKP) berkisar antara Rp3.100 hingga Rp3.700 per kilogram untuk yang dipanen secara manual.

Berbeda dengan GKP yang dipanen menggunakan traktor panen atau combine harvester, harganya mulai dari Rp3.700 hingga Rp4.000 per kilogram.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan