Songsong Hari Santri, Warga NU Rembang Kirab

Senin, 19 Oktober 2015 | 23:04 WIB
Barisan pertama kirab resolusi jihad dalam rangka menyongsong Hari Santri Nasional diawali oleh pembawa bendera merah putih dan panji Nahdlatul Ulama beserta panji dari badan otonom NU seperti GP Ansor dan IPNU. (Foto: Wahyu Salvana)

Barisan pertama kirab resolusi jihad dalam rangka menyongsong Hari Santri Nasional diawali oleh pembawa bendera merah putih dan panji Nahdlatul Ulama beserta panji dari badan otonom NU seperti GP Ansor dan IPNU. (Foto: Wahyu Salvana)

 
REMBANG, mataairradio.com – Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) di Rembang menggelar kirab resolusi jihad dalam rangka menyongsong Hari Santri Nasional. Kirab tersebut dilakukan Selasa (19/10/2015) pagi, mulai Alun-alun Rembang menuju Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh.

Barisan pertama kirab diawali oleh pembawa bendera merah putih dan panji Nahdlatul Ulama beserta panji dari badan otonom NU seperti GP Ansor dan IPNU. Kemudian pelajar, pramuka, santri dari beberapa pesantren di Rembang, dan fatayat, ansor, serta banser.

Pemberangkatan dilakukan oleh PCNU Rembang, setelah sebelumnya didahului dengan serangkaian acara pembukaan. Tampak hadir Penjabat Sementara Bupati Rembang Suko Mardiono. Kirab warga NU Rembang ini sekaligus mengiring rombongan kirab serupa dari Surabaya.

Sesampainya di Pesantren Raudlatut Thalibin, perwakilan rombongan kirab dari Surabaya menyinggahkan sejenak bendera merah putih dan pataka NU dengan menyerahkannya kepada KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus di aula pesantren setempat.

Setelah mendapat sejumlah petuah dari Gus Mus yang merupakan mantan Pejabat Rais Aam PBNU, rombongan kirab Resolusi Jihad bertolak secara estafet menuju Jakarta, sekitar pukul 13.10 WIB, dengan membawa kembali bendera merah putih dan pataka NU.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan