Transaksi Solar Ilegal di Tanjung Bonang Terbongkar

Monday, 17 November 2014 | 15:04 WIB
Dua unit truk tangki pengangkut solar diduga ilegal yang diamankan di Mapolres Rembang, Senin (17/11/2014) pagi. (Foto:Pujianto)

Dua unit truk tangki pengangkut solar diduga ilegal yang diamankan di Mapolres Rembang, Senin (17/11/2014) pagi. (Foto:Pujianto)

 
SLUKE, mataairradio.com – Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Sluke berhasil membongkar transaksi solar diduga ilegal yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Bonang, wilayah Desa Sendangmulyo Kecamatan Sluke.

Dua kendaraan jenis truk tangki diamankan oleh polisi dari transaksi pada Sabtu (15/11/2014) sekitar pukul 18.30 WIB. Senin (17/11/2014) pagi, dua truk yang masing-masing memuat sekitar 8.000 liter solar, diamankan di Mapolres Rembang.

“Setelah kami tangkap, kemarin (15/11/2014) langsung tak sampaikan ke Pak Kasat (Kasatreskrim Iptu Eko Adi Pramono, red.) dan langsung diambil alih oleh Pak Kasat serta kini ditangani di Polres (Rembang),” ungkap Kanit Reserse Kriminal Polsek Sluke Aipda Yudi Supriyanto.

Selain dua truk tangki pengangkut solar diduga ilegal ini, kepada pihak Polres Rembang diserahkan pula sopir dari masing-masing kendaraan, pengirim, dan agennya.

Dua orang sopir yang diamankan masing-masing berinisial GNO (34), warga Jalan Sawah Besar Gang II Kecamatan Gayamsari Semarang selaku pengemudi truk tangki bernomor polisi H 1770 ES dan SRY (39), warga yang sama dengan GNO, selaku pengemudi truk tangki bernomor polisi H 1883 AP.

Informasi yang berhasil dihimpun mataairradio.com, awalnya, sekitar pukul 18.00 WIB, Unit Reskrim Polsek Sluke mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa ada truk tangki yang bermuatan BBM jenis solar diduga ilegal yang sedang bertransaksi di Pelabuhan Tanjung Bonang.

Belakangan diketahui, dua truk tangki itu bertransaksi dengan RYN (43), warga Kelurahan Sukatani Depok Jawa Barat. RYN kemudian diketahui sebagai Kepala Kamar Mesin (KKM) dari sebuah kapal yang diduga hendak dipasok solar diduga ilegal itu.

Pihak Unit Reserse Kriminal Polsek Sluke yang segera mendatangi tempat kejadian, melakukan pengecekan dengan memeriksa dokumen-dokumen serta kemudian dilakukan penangkapan.

Setelah berhasil ditangkap, pihak Unit Operasional Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang pun dikontak untuk meluncur ke lokasi Pelabuhan Tanjung Bonang.

“Setahu saya, itu solar diduga diperjualbelikan antarperusahaan lewat agen atau supliernya. Itu barang (solar, red.) dari Semarang diduga untuk dioper ke kapal pembawanya. Selebihnya saya kurang paham karena masih dalam penyelidikan. Kontak pihak Polres saja,” katanya.

Kapolres Rembang AKBP Muhammad Kurniawan yang dikonfirmasi oleh awak media mengaku masih memproses kasus ini. Pihaknya hanya berjanji untuk segera membeber tuntas kasus tersebut dalam waktu segera.

“Masih proses. Segera kami sampaikan,” katanya saat diminta tanggapannya mengenai apakah sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus di Pelabuhan Tanjung Bonang itu.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

iklan-kandung-toko-alat-listrik




2 comments
  1. kodok

    November 17, 2014 at 3:50 pm

    pihak polres harus transparan…!!! karena kasus ini tdk hny skli terjadi dan berulang2… namun tdk pernah ada tindakan tegas APARAT !!! sy brkeyakinan kasus ini melibatkan oknum polisi !!!

    Reply
  2. suriana

    November 17, 2014 at 4:40 pm

    kalo truknya saja begitu banget bagusnya… betapa anglernya para Mafioso Solar bekerja di rembang yang mengakibatkan kebocoran subsidi BBM tak terhitung jumlahnya. pantesan dalam jarak yang relatif pendek tidak lebih dari 15 KM terdapat kaliori-rembang ada 8 POM bensin besar dan selalu saja kurang terus jatahnya. semua sudah lama tertata demikian rapi dan nyaman betul menjual BBM subsidi sampai berani ngasih sura-surat ijin abak-abal segala. bisa dipastikan bocornya subsidi di rembang dibackingi oleh iknum Pejabat tinggi di rembang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan