SMPN 6 Rembang Dipusingkan Kasus Dugaan Penganiayaan Antarsiswa

Saturday, 18 October 2014 | 16:18 WIB

 

Suasana di teras kantor SMPN 6 Rembang pada Sabtu (18/10/2014) sekitar pukul 10.00 WIB. (Foto: Pujianto)

Suasana di teras kantor SMPN 6 Rembang pada Sabtu (18/10/2014) sekitar pukul 10.00 WIB. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak SMP Negeri 6 Rembang sedang dipusingkan oleh kasus dugaan penganiayaan antar-siswanya. Adalah siswa Kelas 2 atau Kelas VIII di SMP Negeri yang berada di bilangan Jalan Lingkar Selatan Ngotet Kecamatan Rembang, yang diduga menganiaya temannya sendiri.

Kasus penganiayaan ini sendiri terungkap setelah orang tua dari siswa yang diduga menganiaya anaknya melapor ke polisi. MRS diduga dianiaya oleh Y dan kawan-kawan, pada hari Kamis (15/10/2014) siang sekitar pukul 11.00 WIB di salah satu ruang Kelas VIII.

Diduga akibat ditendang, MRS menderita rasa sakit di dada. Karmi, orang tua MRS, warga Desa Pulo Kecamatan Rembang datang ke Polres Rembang pada hari Jumat (17/10/2014), untuk melaporkan kasus pengeroyokan anaknya.

Pihak polisi sudah sempat memeriksa D dan H, teman MRS yang menyaksikan pengeroyokan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Y dan kawan-kawan. Namun belum ada tindak lanjut dari pihak yang berwajib.

Sabtu (18/10/2014) pagi, ketika mataairradio.com mendatangi SMPN 6 Rembang, pihak sekolah sedang menggelar pertemuan. Menurut keterangan dari Wakil Kepala SMP Negeri 6 Rembang, Kepala Sekolah, Guru Bimbingan Konseling (BK), dan orang tua siswa yang terlibat dugaan penganiayaan dipanggil.

“Ini maaf. Pak Kepala Sekolah sedang ada rapat, termasuk guru BK dan orang tua siswa yang terlibat dugaan penganiayaan. Saya tidak berani menjelaskan (ikhwal dugaan penganiayaan, red.). Takut salah,” ujar Joko Riyanta, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 6 Rembang.

Menurut Joko, saat kejadian, dirinya sedang tidak berada di sekolah. Dia mengaku kaget begitu polisi datang ke sekolahnya pada Jumat (17/10/2014) siang kemarin, untuk mengklarifikasi dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang melibatkan siswanya.

“Saat kejadian, saya tidak ada di sekolah. Ada keperluan. Saya ya bertanya-tanya, polisi kok datang, ada apa. Kejadian itu waktu masih UTS (Ujian Tengah Semester) kok. Tapi mungkin pas jam istirahat,” katanya.

Pihaknya berharap, persoalan tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Selama ini, pihak sekolah melalui para guru dan pembimbing konseling, tak pernah bosan mengingatkan para siswa, agar berlaku disiplin di sekolah.

“Ya. Kalau sekolah sih harapannya tidak berlanjut ke proses hukum. Semoga bisa selesai secara kekeluargaan. Kalau soal membina siswa, sekolah terus melakukan. Nggak pernah bosan,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Pujianto

Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan