SMKN 1 Rembang Nekat Rekrut Guru “Outsourcing”

Sabtu, 23 Mei 2015 | 18:17 WIB
Kepala SMK Negeri 1 Rembang Singgih Darjanto (kiri) ketika mendampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan Rembang Noor Effendi, meninjau simulasi UN CBT pada 17 Maret 2015. (Foto: http://www.smk1rembang.sch.id/)

Kepala SMK Negeri 1 Rembang Singgih Darjanto (kiri) ketika mendampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan Rembang Noor Effendi, meninjau simulasi UN CBT pada 17 Maret 2015. (Foto: http://www.smk1rembang.sch.id/)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Rembang, nekat merekrut guru “outsourcing” untuk memenuhi kebutuhan pengajar di sekolah itu.

Sabtu (23/5/2015) ini, seleksi terhadap calon guru itu dilakukan. Padahal, sekolah dilarang merekrut guru honorer baru.

Menurut Kepala SMK Negeri 1 Rembang Singgih Darjanto, guru honorer baru yang direkrut itu masing-masing satu untuk jurusan teknik komputer dan jaringan, teknik kendaraan ringan, serta teknik sepeda motor.

“Selain guru, kami juga merekrut seorang tenaga laborat bahasa inggris dan komputer,” ungkapnya.

Dia mengaku terpaksa merekrut guru honorer baru, karena dua guru yang pensiun dan satu guru yang meninggal dunia, belum diganti guru PNS baru.

“Saya juga pernah bilang ke Dandung (Kepala Dinas Pendidikan kala itu), tetapi sebatas didata. Kalau kami tidak melangkah, yang mengajar anak-anak siapa,” tandasnya.

Dia mengklaim, rekrutmen guru honorer itu, telah direstui Komite Sekolah.

Lalu apakah pihak sekolah tidak khawatir bakal menjadi sorotan masyarakat mengingat rekrutmen guru honorer baru dilarang? Singgih mengaku tak akan mempermasalahkannya.

“Jika disoal, kami bisa saja hanya menerima siswa baru sesuai dengan kemampuan guru yang ada. Tetapi apa ini nanti juga tidak menjadi masalah,” kilahnya.

Menurutnya, akan sangat sayang apabila rekrutmen guru honorer baru ini, diurungkan. Pasalnya, di Rembang, hanya SMK Negeri 1 Rembang yang menjadi sekolah rujukan.

“Sekolah rujukan mesti menampung paling sedikit 1.000 siswa. Di Rembang, hanya SMKN 1 Rembang. Kalau di Pati ada tiga. Jika kami hanya menerima siswa sesuai dengan guru yang ada, status sekolah rujukan itu, bisa dicabut,” terangnya.

Saat ini, jumlah siswa sekolah kami 1.272 orang, termasuk yang lulus tahun ini.

“Kami berharap dengan rekrutmen guru itu, rencana kami untuk menampung sekitar 1.372 siswa pada tahun ajaran ini bisa tercapai. Kami rencana tambah tiga rombel (rombongan belajar) pada tahun ajaran baru nanti,” tandasnya.

Singgih menegaskan, istilah guru “outsourcing” merupakan istilah yang dibuat internal sekolahnya.

Secara keuangan, dia mengklaim bahwa sekolah tidak terbebani. Sebab, pihak komite sekolah bisa menghentikan kontrak guru itu sewaktu-waktu, jika tidak kuat membayar.

“Kami sudah katakan kepada mereka (guru ‘outsourcing), kalau mereka bisa tidak digunakan sewaktu-waktu, ketika komite sekolah tidak lagi kuat untuk bayar,” katanya.

Sayangnya, rekrutmen ini tertutup alias tidak diumumkan secara luas. Padahal berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, sekolah merupakan salah satu badan publik.

“Mereka yang ikut seleksi ini, sebelumnya sudah mendaftar jauh-jauh hari. Ada yang sudah sekitar setengah tahun yang lalu. Pengumumannya tidak secara luas,” katanya.

Guru “outsourcing”, imbuh Singgih, rata-rata lulusan anyar dari perguruan tinggi atau sekitar satu tahun kemarin.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Rembang Noor Effendi mengaku sedang berada di luar kota, sehingga tidak memantau rekrutmen guru tidak tetap di SMK Negeri 1 Rembang.

“Untuk guru tidak tetap, sekolah cukup koordinasi dengan komite sekolah sesuai kebutuhan/kemampuan,” ujarnya singkat melalui SMS.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan