SKK Migas Belum Pastikan Ekploitasi Blok Randugunting

Monday, 24 July 2017 | 13:20 WIB

Kepala SKK Migas Perwakilan Jabanusa Ali Masyhar berbicara dalam sebuah sarasehan “Sinergi Energi” di Hotel Semesta Semarang, Jumat (21/7/2017). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

SEMARANG, mataairradio.com – Pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Perwakilan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara masih belum bisa memastikan eksploitasi Blok Randugunting di Desa Krikilan Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang, setidaknya hingga awal semester kedua tahun 2017.

Padahal eksplorasi dengan pengeboran di dua sumur pada blok di desa tersebut sudah dinyatakan selesai pada akhir tahun 2016 dan hasilnya dikabarkan memuaskan karena menemukan cadangan gas yang terbilang besar.

Kepala SKK Migas Perwakilan Jabanusa Ali Masyhar mengatakan, pihaknya masih melakukan kajian untuk melanjutkan eksplorasi ke eksploitasi migas di Blok Randugunting di Desa Krikilan. Pihaknya belum bisa memastikan kapan eksploitasi akan dilakukan, termasuk apakah bisa dilakukan pada tahun 2017 atau 2018 mendatang.

“Hasil eksplorasi mengetengahkan bahwa cadangan migas, terutama gas, di Blok Randugunting di Desa Krikilan Kecamatan Sumber layak dikembangkan. Hanya saja, saat ini kajian terhadap plan of development atau PoD dari PHE Randugunting atas hasil ekplorasi Blok Randugunting masih perlu terus dilakukan secara seluruhnya, agar benar-benar berkeuntungan,” katanya di Semarang, Jumat (21/7/2017).

Ditemui seusai melakukan jumpa pers mengenai kondisi terkini minyak dan gas di Indonesia, di Hotel Semesta, Ali berharap kepada Pemerintah Kabupaten Rembang agar melakukan langkah nyata guna merespon temuan kandungan besar gas di Desa Krikilan Kecamatan Sumber, meskipun belum ada keputusan secara jelas mengenai eksploitasi.

“Pemerintah Kabupaten Rembang perlu melakukan dua hal. Pertama, berupaya menarik investor dengan kemudahan-kemudahan investasi, misalnya yang terkait kemudahan dalam perizinan. Kemudian, yang kedua adalah melindungi investor, agar merasa terjamin keberlangsungannya. Tidak sebagaimana investasi pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang sampai saat sekarang belum sepenuhnya berjalan karena iklim investasi yang belum sepenuhnya kondusif,” paparnya.

Sebelumnya dalam jumpa pers, Ali menyebutkan, kondisi migas khususnya minyak di Indonesia mengalami defisit atau tereduksi alias tidak sebanding dengan yang dikonsumsi. Produksi migas Indonesia hanya mampu memenuhi 50 persen kebutuhan minyak dan gas di dalam negeri, sedangkan 50 persen mesti dipenuhi dengan impor.

Sementara, di sisi lain, 70-80 persen energi bergantung pada minyak dan gas bumi. Agar APBN tidak terus tergerus, menurutnya, Pemerintah perlu menggencarkan kegiatan mencari cadangan minyak dan gas secara massif.

“Hanya saja persoalan mencari cadangan minyak dan gas juga bergantung pada minat investor migas ke Indonesia,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan