Situs Candi Butun dan Benteng VOC Terancam Penambangan

Kamis, 8 Maret 2018 | 17:36 WIB

Batu mujahadah. “Lembaran” batu seperti sajadah berukuran 80 centimeter kali 1,5 meter di Gunung Punjul, Desa Warugunung Kecamatan Pancur. (Foto: mataairradio.com)

 

PANCUR, mataairradio.com – Sejumlah situs bersejarah di wilayah Desa Warugunung Kecamatan Pancur seperti Candi Butun dan tangsi militer atau benteng VOC, kini terancam oleh aktivitas penambangan.

Lokasi terdekat dengan situs penting yang berkaitan dengan kesejarahan Lasem ini bahkan sudah digerus oleh aktivitas tambang, baik yang dilakukan oleh warga luar maupun pihak korporasi.

Abdullah Hamid, pemerhati budaya Lasem berharap kepada pihak Pemerintah Kabupaten Rembang untuk segera mengeluarkan larangan menambang di kawasan bersejarah, guna penyelamatan situs.

“Sebagian lahan di dekat bangunan bersejarah ini sudah dikuasai oleh warga lain, bahkan korporasi. Sewaktu-waktu bisa dilepas atau dimanfaatkan di luar harapan,” katanya.

Abdullah yang merupakan pengurus perpustakaan Masjid Lasem menyebutkan, bagian Candi Butun sempat menjadi sasaran pencurian batuannya. Demikian pula di benteng VOC.

“Lima tahunan lalu, batuan dekat Candi Butun dan di dekat tengsi VOC, dicuri. Ribuan ton mungkin. Sekerang bentuk bukit dekat candi dan benteng sudah curam,” katanya.

Candi Butun terkait kesejarahan Lasem pada tahun 1400-an atau pada masa Buddha.

Sementara benteng atau tangsi militer VOC terkait dengan Perang Lasem pada tahun 1600 hingga 1700-an.

“Intervensi Pemerintah diperlukan agar situs-situs bersejarah di wilayah Lasem dan sekitarnya selamat dari kerusakan, bahkan kemusnahan,” katanya.

Sementara itu, selain Candi Butun dan benteng VOC, masih ada lagi situs penting di daerah Gunung Punjul atau Bukit Gebang Desa Warugunung, Pancur.

Di antaranya, batu mujahadah. “Lembaran” batu seperti sajadah berukuran 80 centimeter kali 1,5 meter.

Terdapat pula sisa bangunan pesantren Mbah Shidiq pada era 1900-an.

“Kesejarahan mulai dari Buddha, VOC, dan Islam ada di situ. Akan sangat rugi bila fakta sejarah itu hilang musnah karena kita tidak merawatnya,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



One comment
  1. SUNARTO

    Maret 8, 2018 at 6:36 pm

    Kita dr Paguyuban andesit akan menindaklanjuti dg turun ke lapangan.
    Terimakasih infonya.
    SUNARTO ketua paguyuban penambang andesut rembang.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan