SIR Tunda Investasi Semen Beralih ke Ferro-Nikel

Kamis, 12 Maret 2015 | 19:04 WIB
Nikel. (Foto: tubasmedia)

Nikel. (Foto: tubasmedia)

 

SLUKE, mataairradio.com – Manajemen PT Semen Indonesia Rembang menunda investasinya di persemenan dan beralih ke industri ferro-nikel.

Pilihan ini ditempuh karena mereka menganggap investasi pabrik semen di Rembang, sementara ini belum kondusif.

Pabrik ferro-nikel ini pun tidak lagi bernaung di bawah PT Semen Indonesia Rembang, tetapi ditangani PT Rembang Smelter Indonesia (RSI).

Penanggung Jawab PT Rembang Smelter Indonesia Soetjipto Handoko menjelaskan, ferro-nikel adalah bahan setengah jadi untuk produk stainless.

“Bahan bakunya tidak dari Rembang, tetapi didatangkan dari Sulawesi,” ungkapnya kepada awak media, Rabu (12/3/2015) siang.

Lalu kenapa diproduksi di Rembang? Soetjipto beralasan karena sudah punya lahan dan dekat dengan pelabuhan.

“Status investasi di persemenan, dalam posisi “hold” atau ditahan sementara,” tandasnya.

Pihak PT Rembang Smelter Indonesia memastikan, tapak pabrik yang akan digunakan untuk produksi ferro-nikel, berbeda dengan yang sedianya dipakai untuk semen.

“Lokasi bakal pabrik ferro-nikel berada di bagian depan dari calon tapak pabrik semen di wilayah Desa Sendangmulyo Kecamatan Sluke,” katanya.

Menurut Soetjipto, lahan yang dibutuhkan untuk pabrik ferro-nikel dan kini telah siap itu, mencapai 12,5 hektare. Kapasitas bahan bakunya mencapai 40.000 ton per bulan.

“Bijih nikel sebanyak 40.000 ton per bulan ditaksir menghasilkan 6-8 persen ferro-nikel atau sekitar 3.200 ton per bulan,” terangnya didampingi Agus Suprayogi, petinggi lain di Rembang Smelter Indonesia.

Agus juga mengungkapkan, nilai investasi ferro-nikel di daerah ini mencapai ratusan miliar rupiah atau menyentuh satu triliun rupiah jika dihitung sejak masa persiapan.

Soetjipto menambahkan, pabrik ferro-nikel miliknya sedang dalam masa penyelesaian dokumen analisis mengenai dampak lingkungan atau Amdal.

“Sesuai rencana, Amdal akan tuntas pada 5-6 bulan ke depan. Karenanya, “ground breaking” pabrik baru akan dimulai pada sekitar September 2015,” imbuh dia.

Pihak Rembang Smelter Indonesia mengaku sedang memulai sosialisasi kepada masyarakat di ring pertama bakal pabrik, yakni Sendangmulyo, Blimbing, Manggar, Labuhan, dan Bendo.

“Soal debu nikel dari produksi ferro-nikel, kami sudah menyiapkan alat canggih sebagai penangkapnya,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan