Sidang Kasus Bogorame, Warga Kukuh Tak Merusak

Senin, 18 Mei 2015 | 17:29 WIB
Suasana sidang kasus dugaan pengerusakan pagar kayu milik seorang pengusaha penggergajian bernama Basis oleh enam terdakwa yang merupakan warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang, kembali berlanjut Senin (18/5/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

Suasana sidang kasus dugaan pengerusakan pagar kayu milik seorang pengusaha penggergajian bernama Basis oleh enam terdakwa yang merupakan warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang di Pengadilan Negeri Rembang (18/5/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Sidang kasus dugaan pengerusakan pagar kayu milik seorang pengusaha penggergajian bernama Basis oleh enam terdakwa yang merupakan warga Desa Bogorame Kecamatan Sulang, kembali berlanjut Senin (18/5/2015) pagi.

Pada sidang kali ini, peradilan menghadirkan tiga orang saksi. Seorang di antaranya adalah Basis, sedangkan dua orang lainnya adalah Jupri mandor tempat penggergajian itu serta Janadi, pekerja penggergajian. Ketiga orang saksi bersikukuh bahwa pagar Basis dirusak warga.

Saat memberikan kesaksian, Basis yang juga merupakan warga Desa Bogorame mengaku mendapat kabar adanya pengerusakan pagar dari Jupri. Tidak ada warga yang meminta izin kepadanya untuk membuka pagar kayu di belakang penggergajiannya. Pagar itu dibuka dengan kayu yang dibuang tak beraturan.

“Setelah pengerusakan itu, saya sempat telepon Pak Lasman. ‘Pak Lasman itu pagar saya, perbaiki’. Kalau diperbaiki, saya nggak akan mempermasalahkan,” katanya di persidangan.

Budi Supriyatno, penasehat hukum keenam terdakwa memastikan kesaksian Basis. Bos penggergajian yang pernah menjadi Carik Desa Bogorame ini sulit menjawab pertanyaan pengacara terdakwa tentang panjang pagar yang dirusak. Dua saksi termasuk Basis menjawab 7 meter, tetapi klaim warga 4 meter.

Warga yang duduk sebagai terdakwa juga berdalih hanya menyabut dan tidak merusaknya, tetapi saksi menuding dirusak. Budi bertanya kepada Basis soal apakah kayu pagar itu patah atau dicabut. Basis mengatakan ada yang patah dan ada yang dicabut, sehingga tidak beraturan.

“Jalan yang hendak dibangun oleh pemerintah desa dengan melibatkan masyarakat melalui program TMMD adalah jalan desa, dengan bukti peta desa,” kata dia.

Namun Basis mengklaimnya sebagai milik PT KAI. Alur jalan selama ini ditumbuhi semak dan melintasi lokasi berdirinya pagar milik Basis.

Sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim Antyo Harri Susetyo berlangsung selama hampir empat jam sejak pukul 10.15 WIB. Persidangan selesai dengan kesimpulan untuk menunda kelanjutan sidang pada Senin 25 Mei mendatang.

Hakim meminta terdakwa kooperatif dan hadir untuk mendengarkan saksi-saksi yang lain yang akan dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Selama sidang, sekitar 100 orang warga hadir, termasuk sejumlah kades.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan