Setahun Vakum, Wisata Sendangcoyo Dibuka Kembali

Rabu, 8 Mei 2019 | 00:00 WIB


Bupati Rembang Abdul Hafidz, saat menjajal jembatan gantung di tempat wisata alam Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem, Ahad (5/5/2019). (Foto: Humas Setda Rembang)

 

 

LASEM, mataairradio.com – Wisata alam Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem mulai dibuka kembali pasca vakum sekitar satu tahun. wisata yang mengandalkan destinasi alam, flying fox dan jembatan gantung ini dibuka sekitar satu minggu yang lalu namun diresmikan oleh Bupati Rembang pada Ahad (5/5/2019) kemarin.

Kepala Desa (Kades) Sendangcoyo Dwi Sukamdi mengungkapkan alasan tutupnya wisata tersebut karena alasan pengelolaan dan juga sengketa tanah. Namun setelah semuanya selesai maka wisata andalan desanya tersebut mulai dioperasikan kembali.

Saat ini destinasi tersebut dikelola oleh badan usaha milik desa (Bumdes) dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Rencananya, pihak pengelola dalam waktu dekat akan memperbaiki semua fasilitas yang ada dan juga mempromosikan wisata yang dulu menjadi andalan Lasem ini, apalagi lebaran nanti banyak warga dari luar kota yang mudik ke Rembang.

“Semoga tidak terjadi lagi kevakuman seperti kemarin, itu bisa jadi pembelajaran,” ungkapnya.

Kamdi menambahkan biaya untuk ke Sendangcoyo cukup terjangkau. Untuk parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 3 ribu sedangkan roda empat Rp 10 ribu. Untuk merasakan fliying fox sendiri pengunjung cukup membeli tiket Rp 15 ribu dan jembatan gantung Rp10 ribu. Sedangkan tiket terusan Rp 25 ribu.

Dirinya berharap Sendangcoyo menjadi pilihan wisata dan juga unggulan di Lasem dan Rembang, apalagi jika dijadikan satu paket dengan wisata di Lasem seperti Pantai Karangjahe dan wisata pecinan di Lasem.

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan