Sepi Muatan, Ratusan Sopir Tambang Protes Perusahaan

Rabu, 29 April 2015 | 18:50 WIB
Para sopir truk tambang di wilayah Kecamatan Sale melakukan aksi unjuk rasa menuntut pembagian muatan material tambang dari perusahaan di wilayah Desa Tahunan kecamatan setempat, Rabu (29/4/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

Para sopir truk tambang di wilayah Kecamatan Sale melakukan aksi unjuk rasa menuntut pembagian muatan material tambang dari perusahaan di wilayah Desa Tahunan kecamatan setempat, Rabu (29/4/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

 

SALE, mataairradio.com – Ratusan sopir truk pengangkut material tambang di wilayah Kecamatan Sale melakukan aksi protes kepada PT Sinar Asia Fortuna (SAF) di wilayah Desa Tahunan kecamatan setempat, Rabu (29/4/2015) pagi. PT SAF dianggap tidak mau membagi muatan kepada para sopir ini.

Mereka menuntut agar perusahaan mengangkut material tambangnya, tidak hanya dengan armada sendiri. Hal itu dianggap oleh para sopir sama saja tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut bekerja. Padahal truk-truk mereka dibeli secara kredit dan mesti dicicil tiap bulan.

“Kami tahu saat sekarang order perusahaan sedang sepi. Tetapi paling tidak kami diberi muatan satu rit per hari, agar tetap bisa membayar angsuran. Saat ini perusahaan mengandalkan armada milik sendiri, sehingga kami menganggur,” ujar Sunartoyo, koordinator aksi para sopir truk tambang.

Aksi para sopir truk yang berlangsung lebih dari tiga jam sejak pukul 06.30 WIB itu hanya diterima oleh Nono, salah satu mandor tambang PT SAF. Para sopir dijanjikan dipertemukan dengan Manajer PT SAF di Balai Kecamatan Sale, Kamis (30/4/2015) ini. Aksi pagi itu pun dianggap tak berbuah hasil.

Sunartoyo kembali mengatakan, sebelum aksi protes yang ke sekian kali ini, para sopir itu masih diberi muatan tiga rit material tambang per harinya. Dari tiga rit itu, mereka bisa mengantongi pendapatan Rp400 ribu per hari.

“Dengan nilai angsuran yang besarnya Rp6,7 juta per bulan, kami masih membayar jika mengangkut tiga rit per hari. Tuntutan ini wajar karena kami yang warga sekitar tambang ini, yang paling terdampak oleh aktivitas penambangan,” tegasnya.

Sebenarnya, pihak perusahaan juga pernah memberi tawaran kepada mereka, agar turut mengangkut suplai material ke salah satu perusahaan di Rembang.

“Tetapi karena ongkos angkutan dibayar dengan sistem tiga bulanan, tawaran itu pun kami tolak,” bebernya.

Sunartoyo menambahkan, jumlah truk tambang milik warga Desa Tahunan dan sekitarnya yang selama ini bekerja di PT SAF mencapai 50 unit.

“Sementara masih ada truk lain milik warga yang bekerja untuk perusahaan lain selain SAF, seperti PT ICCI, UTSG, dan Bio. Jumlahnya ratusan unit,” kata dia.

Pada aksi pagi itu, tidak hanya truk warga di PT SAF yang berhenti beroperasi, tetapi juga yang bekerja untuk perusahaan lain. Dalam aksinya, para sopir juga sempat menghalangi truk perusahaan melintas, sebelum tuntutan mereka direspon. Namun setelah aksi itu bubar, truk perusahaan beroperasi lagi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan