Semen Indonesia Klaim Tuntas Penuhi Aturan Pabrik Semen

Rabu, 11 Juni 2014 | 16:55 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

REMBANG, MataAirRadio.net – Pihak PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mengklaim telah tuntas memenuhi semua peraturan lingkungan menyangkut pendirian pabrik semen di wilayah Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang. Ada 35 aturan yang dianggap telah dipatuhi perusahaan semen plat merah tersebut.

Yang terbaru, menurut Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Agung Wiharto, rencana pendirian pabrik semen berkapasitas tiga juta ton per tahun ini, tidak melanggar kawasan lindung geologi. Pada 16 Mei lalu, Menteri ESDM Jero Wacik menyatakan bahwa Rembang tidak masuk Kawasan Karst Sukolilo.

Kawasan Karst Sukolilo di Pegunungan Kendeng Utara, meliputi dua kecamatan di Pati, enam di Grobogan, serta dua di Blora. Kawasan ini resmi ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi atau bagian dari kawasan lidung nasional. Agung mengaku sudah pernah menyampaikan keputusan dari Menteri ESDM ini kepada pihak yang belum setuju dengan rencana pendirian pabrik semen.

Namun pihak penolak rencana pendirian pabrik semen di wilayah Kabupaten Rembang, tak bergeming. Mereka berdalih, soal karst imbuhan air, bukanlah satu-satunya alasan menolak rencana pendirian pabrik semen. Alasan lainnya adalah kehidupan sosial-budaya yang terancam.

Tokoh penolak pendirian pabrik semen asal Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem Sumarno, mengaku pernah diberi informasi mengenai Surat Keputusan Menteri ESDM mengenai Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo, yang berlaku mulai 16 Mei 2014.

Informasi ini diterimanya dari pihak Semen Indonesia ketika terlibat dalam dialog di salah satu radio berita di Jakarta. Namun dia mengaku masih ragu dengan keputusan yang menyebut Jalur Pegunungan Kendeng di Tegaldowo bukan kawasan karst penyimpan air.

Sementara itu, pihak PT Semen Indonesia (Persero) Tbk belum akan melakukan perekrutan tenaga kerja, untuk operasional pabrik yang berdiri di tengah hutan, antara Desa Kadiwono Kecamatan Bulu dan Desa Kajar Kecamatan Gunem.

Menurut keterangan pihak Sekretaris Perusahaan, ketika pabrik beroperasi, hanya dibutuhkan tenaga ahli sekitar 300 orang, meliputi ahli geologi, kimia, teknik industri, dan permesinan. Jika ditambah dengan tenaga pendukung, bisa mencapai 1.000 orang.

Tenaga pendukung biasanya bekerja di bagian pengepakan dan pengiriman barang. Meski berjanji menggunakan tenaga lokal, keseluruhan tenaga kerja yang dibutuhkan pabrik semen tidak bisa semuanya orang baru. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



One comment
  1. suria

    Juni 11, 2014 at 5:47 pm

    jero acik hanya menambah banyak daftar kasus hukumnya di KPK saja… jelas Rembang Lindung Geologi Kelas I kok tidak dimasukan.. setidaknya pejabat propinsi ada yang kena juga itu, dalam hal Ganjar Pranowo harus diseret ke KPK soal ini juga. karena ini bagian dari tanggungjawab kunci dia!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan