Sekda dan Anak Buah Abdullah Diperiksa Kejari

Tuesday, 7 April 2015 | 16:59 WIB
Kepala Seksi Pidsus Kejari Rembang Eko Yuristianto. (Foto: Pujianto)

Kepala Seksi Pidsus Kejari Rembang Eko Yuristianto. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sekretaris Daerah Rembang Hamzah Fatoni dan anak buah Kabag Kesra Abdullah berinisial AR diperiksa oleh Kejaksaan Negeri Rembang, Selasa (7/4/2015) pagi. Keduanya diperiksa sebagai saksi terkait kucuran dana hibah dari APBD 2013.

Pemeriksaan keduanya merupakan pengembangan penyidikan kasus musala fiktif di Desa Bogorejo Kecamatan Sedan yang sudah menyeret lima tersangka ke tahanan. Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Rembang Eko Yuristianto mengatakan pemeriksaan terhadap AR dilakukan terkait administrasi dana hibah.

AR juga diperiksa terkait ploting anggaran kepada penerima dana hibah. Eko menyebut, pemeriksaan AR demi mengungkap dugaan penyelewengan dana hibah secara keseluruhan. Menurutnya, kasus musala fiktif menjadi kunci pembuka pengungkapan perkara yang disinyalir lebih besar.

“Kami periksa (AR) dan Sekda untuk pengembangan soal dana hibah. Kami ingin dapat ‘ikan besar’, tidak ‘ikan kecil’ saja,” ungkapnya kepada mataairradio.

Eko juga menanyakan kepada AR tentang jumlah dana hibah sepanjang 2013, termasuk mekanisme penyalurannya. Dia mengakui, pemeriksaan terhadap AR sudah keluar dari kasus musala fiktif, sehingga merupakan pengembangan.

Namun Eko tidak membeberkan materi pemeriksaan terhadap Sekda Rembang Hamzah Fatoni. Padahal Hamzah diperiksa lebih dulu ketimbang AR oleh penyidik kejaksaan.

Dari informasi yang dihimpun, pemeriksaan terhadap Sekda berkaitan dengan mekanisme pengusulan dana hibah. Disinyalir, dana hibah yang disalurkan pada tahun 2013 tidak melalui usulan tahun sebelumnya, tetapi dilakukan pada tahun berjalan, sehingga melanggar aturan.

“Pemeriksaan ini sudah keluar dari kasus musala fiktif, tetapi masih terkait dana hibah. Sekda kami periksa lebih dulu dari AR,” katanya.

Berdasarkan proposal musala fiktif di Desa Bogorejo, terungkap bahwa usulan dana hibah itu baru dilakukan pada bulan Juni 2013 dan cair pada bulan Juli tahun yang sama. Setelah dicairkan, uang Rp40 juta tidak digunakan untuk membangun musala.

Namun pada laporan pertanggungjawaban penggunaan dana itu, termuat foto kegiatan yang ternyata bukan hasil pembangunan, melainkan musala lain yang sudah lama berdiri. Uang itu baru digunakan setelah kejaksaan mengendus kasus ini. Itu pun tidak dilakukan di musala yang diusulkan, tetapi di musala lain.

Dalam kasus musala fiktif, Kejaksaan Negeri Rembang sudah menahan lima orang masing-masing Salimun, Muhammad Sholikul Anwar, Ali Maksum, Umi Qoyyimah, dan Kabag Kesra Setda Rembang Abdullah. Kelimanya sudah ditahan oleh kejaksaan dan dititipkan di Rutan Kelas IIB Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan