Sejak 15 Januari, Urea di Rembang Ditangani Pusri

Kamis, 28 Januari 2016 | 18:47 WIB
Ilustrasi pupuk bersubsidi. (Foto: Pujianto)

Ilustrasi pupuk bersubsidi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Distribusi pupuk bersubsidi jenis urea di Kabupaten Rembang mulai 15 Januari lalu ditangani oleh PT Pusri, tapi untuk jenis lainnya seperti ZA, SP-36, Phonska, dan Petroganik masih ditangani oleh PT Petrokimia Gresik.

Hal itu diungkapkan oleh Sales Supervisor PT Petrokimia Gresik wilayah Rembang Haryanto saat sesi jumpa pers, Kamis (28/1/2016) sore.

Menurut ia, kendati beda produsen, tetapi secara produk, urea yang akan dijumpai petani, nyaris identik. Secara unsur hara, sama 46 persen.

“Mungkin butirannya saja yang akan berbeda karena urea Pusri lebih besar. Warnanya sama,” katanya.

Soal alasan produsen yang mengkaver urea di Rembang sering berganti, Haryanto menyebut itu wewenang Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC).

“Intinya pergantian produsen tak akan memicu masalah, meski suplai yang Pusri melewati pelabuhan,” katanya.

Direktur CV Yunita Jaya, Joko Budi Cahyono selaku salah satu distributor pupuk bersubsidi di Rembang mengaku mengikuti saja aturan baru dari PIHC, salah satunya mengenai suplai urea yang berganti dari Petrokimia ke Pusri.

“Soal pemberitahuan ke kios akan ada sosialisasi segera,” terangnya.

Menurutnya, sosialisasi ke kios-kios resmi di wilayah 7 distributor pupuk di Rembang, akan dilakukan pada tanggal 4 atau 5 Februari mendatang.

“Pergantian suplai urea bersubsidi di Rembang tidak akan ada masalah,” ujarnya.

Memang, Joko mengakui, penyerapan pupuk dari petani Rembang, masih sangat rendah. Hal itu karena tingkat curah hujan rendah.

“Seiring dengan meningkatnya curah hujan, penyerapan akan maksimal. Mungkin dua minggu ke depan sudah banyak penyerapannya,” katanya.

Hanya saja, penyaluran tetap akan memperhatikan rencana definitif kebutuhan kelompok.

Berdasarkan catatan pihak Petrokimia atas penyaluran pupuk di Rembang, sepanjang 2015, urea tersalur 23.500 ton, SP-36 4.350 ton, ZA 10.758 ton, NPK atau Phonska 15.261 ton, dan organik 7.000-an ton.

Dari lima jenis pupuk bersubsidi itu, 3 jenis di antaranya yaitu ZA, NPK, dan urea, justru dialokasikan lebih rendah pada 2016.

Urea misalnya dialokasi hanya 23.100 ton, ZA 9.060 ton, dan NPK 14.760 ton. Namun biasanya, jika ada kekurangan, maka dilakukan realokasi pada pertengahan tahun.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan