Satu Keluarga Gila di Gandrirojo sudah Sembuh

Selasa, 3 Juli 2018 | 14:09 WIB

Ngabdi (tengah) saat didatangi pihak desa dan anggota Koramil Sedan, baru-baru ini. (Foto: mataairradio.com)

SEDAN, mataairradio.com – Satu keluarga terindikasi gangguan kejiwaan di Dukuh Sawahan Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan sudah sembuh.

Sebelumnya keluarga tersebut dikirim ke rumah sakit jiwa (RSJ) dr Amino Gondohutomo Semarang guna menjalani pengobatan.

Satu keluarga itu adalah Ngabdi (63), Tasirah (59), serta dua orang anaknya yaitu Salam (20) dan Masyhur (18).

Kini kondisi mereka sudah normal dan kembali beraktivitas dengan tetangganya.

Sebelumnya, hampir tujuh tahun keluarga itu mengurung diri di dalam rumah dan tidak berbaur dengan masyarakat, sehingga warga dan pemerintah desa setempat menganggapnya gila.

Ahmad Daim, Perangkat Desa Gandrirojo menyebutkan, perubahan perilaku Ngabdi yang lebih baik setelah menjalani pengobatan membuat warga dan tetangga sekitar menjadi lebih nyaman.

“Selain itu, anak-anaknya Ngabdi juga sudah mulai mau bersosialisasi lagi dengan teman-temannya. Bahkan, sudah mau datang ke masjid dan berkenan diundang ketika ada tetangga yang menggelar hajatan,” ungkapnya.

Daim berharap, ketika ada salah satu warga yang mengalami kebutuhan khusus seperti keluarga Ngabdi, supaya masyarakat bersikap tanggap dan segera berkoordinasi dengan pemerintah desa.

“Sekarang ini rumah Ngabdi sudah diperbaiki karena mendapat bantuan melalui program rumah tidak layak huni (RTLH) dari pemerintah,” terangnya, Selasa (3/7/2018) pagi.

Muhtar Nur Halim, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Gandrirojo mengaku senang dengan perubahan kondisi keluarga Ngabdi setelah selama 21 hari menjalani pengobatan di salah satu rumah sakit jiwa di Semarang.

Menurutnya ada perubahan signifikan pada keluarga Ngabdi. Yakni mulai dari prilakunya dan cara berkomunikasi dengan masyarakat.

“Bahkan, kini salah satu anak Ngabdi yang bekerja di Malaysia juga sudah mempedulikan keluarganya. Sudah mau berkirim uang, memperbaiki rumah bapaknya, dan rencananya mau mebelikan kendaraan untuk adiknya agar dipakai bekerja,” ujarnya.

Muhtar menegaskan pemerintah desa harus peduli terhadap hal yang sama seperti terjadi pada keluarga Ngabdi, karena kewajiban untuk mewujudkan kesejahteraan warga dalam lingkup terkecil ada pada pemerintahan desa,

“Apalagi pemerintah desa diberi amanah untuk mengelola anggaran dana yang besar, melalui dana desa (DD) dan anggaran dana desa (ADD),” pungkasnya.

Diberitakan mataairradio sebelumnya, Ngabdi mengurung tiga orang keluarganya selama kurang lebih tujuh tahun di dalam rumah.

Ngabdi juga mengancam akan membunuh keluarganya itu bila keluar rumah. Pihak Desa Gandrirojo sudah kewalahan menangani keluarga Ngabdi.

 

Penulis: Mohamad Siroju Munir
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan