Sarang Diinspeksi, Komisi Pengawas Pupuk Klaim Tak Ada Masalah

Rabu, 24 Desember 2014 | 16:35 WIB

 

Rapat Evaluasi Kinerja Pengawas Pupuk dan Pestisida Rembang di Teraskota, Senin (8/12/2014). (Foto: mataairradio.com)

Rapat Evaluasi Kinerja Pengawas Pupuk dan Pestisida Rembang di Teraskota, Senin (8/12/2014). (Foto: mataairradio.com)

 

SARANG, mataairradio.com – Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Rembang sudah menginspeksi distribusi pupuk di wilayah Kecamatan Sarang sebagai tindak lanjut atas aduan petani mengenai kelangkaan pupuk di daerah itu kepada DPRD setempat.

Secara persediaan, semua jenis pupuk di wilayah Kecamatan Sarang, diklaim cukup hingga akhir tahun. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang Suratmin menyebutkan, hingga 22 Desember 2014, stok urea masih 63 ton, ZA 115 ton, SP-36 27 ton, Phonska 53 ton, dan pupuk organik tersisa 52 ton.

“Pengecekan kelangkaan sempat dilakukan langsung ke Kelompok Tani Karya Mulya Desa Nglojo. Maskun, Ketua kelompok tani itu sudah menebus pupuk. Demikian pula dengan anggotanya. Kades Ngojo Biyanto pun menyebutkan hal yang sama,” ungkapnya.

Suratmin menandaskan, jumlah pupuk yang sudah tersalurkan, telah mencukupi kebutuhan petani di lapangan. Apalagi, belum semua petani di Kecamatan Sarang belum menanam padi alias masih banyak yang mengolah lahan.

“Prediksi kami, masa pemupukan baru akan terjadi Januari 2015,” tandasnya.

Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Rembang mengimbau kepada para petani agar tidak mencemaskan ketersediaan pupuk. Sebab, untuk tahun 2015, alokasi pupuk di Kabupaten Rembang sudah disiapkan.

“Kami siap untuk meminta kepada produsen guna memenuhi kebutuhan petani di bulan Januari yang menjadi puncak masa pemupukan. Misalnya dengan mengambil stok bulan berikutnya untuk dipakai di bulan Januari 2015,” terangnya.

Sementara itu, terkait adanya petani yang belum masuk Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), Sekretaris KP3 Rembang Dwi Purwanto sudah menginstruksikan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) untuk merevisi data RDKK.

“Kita sudah perintahkan koordinator penyuluh di tiap kecamatan untuk melakukan revisi RDKK, jika memang ada yang belum masuk,” ujarnya.

Secara terpisah, menanggapi informasi adanya harga urea di pasaran yang di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Rembang Muntoha berpendapat, hal itu terjadi karena adanya tambahan biaya pengangkutan pupuk dari pengecer ke lokasi petani.

“Sepanjang sudah ada kesepakatan antara pengecer dan kelompok tani, maka tidak ada persoalan. Kecuali jika harganya terlampau tinggi,” tegasnya.

Dia berkomitmen mengawasi peredaran pupuk di kabupaten Rembang.

Dia mengungkapkan, belum lama ini ada pengecer tidak resmi yang menyetok dan menjual pupuk. Pihaknya sudah melayangkan surat peringatan. Apabila sampai mengulangi lagi, maka akan diproses secara hukum. Sayangnya, siapa oknum pengecer ilegal, KP3 tidak membebernya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan