Pelayar Sandeq Mandar “Merangkai Indonesia” Singgah di Rembang

Rabu, 19 November 2014 | 18:26 WIB
Perahu tradisional sandeg Mandar yang dilayarkan oleh Fino (26), warga Flores NTT ketika singgah di Pelabuhan Tasikagung, Rabu (18/11/2014) sore. (Foto Pujianto)

Perahu tradisional sandeg Mandar yang dilayarkan oleh Fino (26), warga Flores NTT ketika singgah di Pelabuhan Tasikagung, Rabu (18/11/2014) sore. (Foto Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Seorang pelayar perahu Sandeq Mandar bernama Rofinus Monteiro (26) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) singgah di Rembang dalam ekspedisi pelayaran solo bertajuk “Merangkai Indonesia” pada Rabu (18/11/2014) sekitar pukul 16.00 WIB.

Dia mulai berlayar sejak sebulan lalu dan singgah di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung. Perahu tradisional sandeq khas Suku Mandar Sulawesi Barat yang memiliki panjang sekitar tujuh meter ini, disandarkan di perairan setempat.

Pemuda yang akrab disapa Fino ini mengaku telah melewati pelayaran yang panjang mulai dari Makasar, Takarewataya, Pulau Sabaru, Pulau Longkoitang, Pulau Sapuka, Pulau Sailus Besar, Pulau Sumbawa, Lombok, Bali, dan Pulau Jawa.

“Ini ada beberapa onderdil yang rusak dan perlu diperbaiki,” kata Fino yang ditanyai wartawan mengenai alasannya singgah di daratan Rembang.

Alumnus Universitas Trisakti Jakarta ini mengaku membawa perbekalan berupa beras, bahan lauk pauk, uang tunai satu juta rupiah, dan pelampung serta alat keselamatan diri.

“Ini sebenarnya mau melanjutkan perjalanan menuju Perairan Karimunjawa di Jepara dan berakhir di Jakarta. Kapannya masih harus menunggu perbaikan selesai,” ujar pemuda asal Flores itu.

Dia menyebutkan, perjalanannya ini memang didukung oleh sponsor yang tidak diungkapkan. Menurutnya, perjalanan pelayarannya ini untuk merangsang kalangan muda Indonesia, agar mencintai maritimnya.

“Saya melihat kalangan muda di Indonesia kurang menaruh respek terhadap kekayaan maritim negeri ini. Perjalanan ini untuk merangsang ke arah sana,” terangnya.

Saat sudah sampai daratan, pemuda ini langsung disambut oleh Komandan Pos TNI Angkatan Laut Rembang Letda Hartono dan Komandan Kodim 0720 Rembang Letkol Infanteri Wawan Indaryanto.

“Menurut kami ini kegiatan yang bagus dan positif, sekaligus bisa dijadikan contoh bagi pemuda lain bangsa ini untuk lebih mengenalkan kekayaan maritim Indonesia,” ujar Komandan Kodim 0720 Rembang.

Untuk diketahui, Sandeq adalah Mandar, karena sandeq lahir dari suku Mandar. Sebelumnya, perahu mereka bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik masih kasar bentuknya dan lebih lebar.

Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq. Pertimbangannya untuk kecepatan. Itulah sebabnya, bentuk ideal Sandeq adalah seperti jantung pisang jika dilihat dari muka. Dan soal kecepatan, konon sandeq adalah perahu tercepat sedunia.

Penamaan sandeq berasal dari bahasa mandar yang sama “sande” yang berarti runcing, sebagaimana bentuk perahu tersebut yang memang nampak runcing di bagian haluan dan buritannya.

Banyak kalangan menilai bahwa mandar adalah pelaut ulung yang melintasi luasnya lautan dengan keberanian menggunakan perahu sandeq.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan