Sembilan Saksi Kasus Sidorejo Ungkap Dugaan Penggelembungan Harga Tanah

Rabu, 5 Maret 2014 | 17:48 WIB
Dua dari enam orang warga Desa Sidorejo Kecamatan Sedan saat melaporkan dugaan penyimpangan tukar guling tanah banda desa oleh Mantan Kades Sholih, Senin (24/2). (Foto: Puji)

Dua dari enam orang warga Desa Sidorejo Kecamatan Sedan saat melaporkan dugaan penyimpangan tukar guling tanah banda desa oleh Mantan Kades Sholih, Senin (24/2). (Foto: Puji)

REMBANG, MataAirRadio.net – Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Rembang, Rabu (5/3) siang memeriksa sembilan orang saksi terkait kasus dugaan penyimpangan tukar guling tanah aset Desa Sidorejo Kecamatan Sedan yang diduga dilakukan Sholih, mantan kades setempat. Semua orang yang diperiksa kali ini adalah warga Desa Sidorejo.

Aktivis dari Aliansi Masyarakat Peduli Desa Sidorejo atau Ampedes Abdul Mun’im kembali mendampingi para saksi yang diminta keterangannya oleh polisi. Menurutnya, warga Sidorejo yang dipanggil adalah pembeli tanah aset desa yang dipertukargulingkan. Sebenarnya ada 10 orang yang hendak diperiksa, namun seorang di antaranya tidak hadir.

Saksi bernama Maksun dijadwalkan ulang untuk diperiksa pada Jumat (7/3) nanti. Menurut Mun’im, sepuluh warga itu membeli tanah dari Sholih sebagai Kepala Desa Sidorejo. Namun hanya dua orang yang membeli untuk dipakai sendiri, sedangkan lainnya hanya sekadar pinjam nama. Hal tersebut diketahui dari kepemilikan sertifikat tanah. Dalam hal ini, diduga ada pemalsuan tanda-tangan.

Pemeriksaan saksi kali ini adalah yang kedua. Sebelumnya, polisi telah memeriksa ketua dan bendahara panitia pelelangan. Menurut Mun’im, dari keterangan kedua saksi tersebut terungkap pula bahwa ada penggelembungan nilai harga tanah.

Dia mengungkapkan, ada beberapa bidang tanah yang dilaporkan lebih mahal dari yang senyatanya ditukar guling. Ada tanah yang ditukar guling dari warga dengan nilai hanya Rp85 juta, namun dilaporkan kepada Pemkab Rembang dengan nilai Rp120 juta. Ada pula yang harga Rp40 juta, dilaporkan Rp50 juta; dan harga Rp32 juta dilaporkan Rp40 juta.

Tanah aset Desa Sidorejo ditukar guling untuk kepentingan pembangunan Kantor Kecamatan Sedan dan Balai Desa Sidorejo. Pembangunan kedua kantor pemerintahan tersebut tidak memakan semua luas aset tanah tersebut. Sisa tanah yang tidak “terpakai”, dijual secara kaplingan dengan harga Rp30 juta per kapling pada 2007. Rumah Sholih juga berdiri di atas tanah kaplingan itu.

Kepala Unit III Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang Inspektur Satu Sutikno menjadwalkan pemeriksaan terhadap saksi lain pada Jumat (7/3) mendatang. Selain saksi yang tidak hadir di pemeriksaan kali ini, Sekretaris Desa Sidorejo Khoiron akan dipanggil di pemeriksaan nanti. Menurutnya, masih ada sekitar lima orang yang perlu dipanggil untuk memberikan keterangan.

Namun polisi masih enggan mengungkapnya sekarang. Polisi juga masih menelisik aliran dana hasil penjualan tanah aset desa yang dikapling. Uangnya masuk ke kas desa atau masuk ke kantong pribadi Sholih, kepala desa kala itu. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan