Pemkab Klaim Rumah Tak Layak Huni Tinggal Belasan Ribu

Minggu, 5 Januari 2014 | 18:02 WIB
Salah satu rumah warga di Desa Manggar Kecamatan Sluke yang tidak layak huni.

Salah satu rumah warga di Desa Manggar Kecamatan Sluke yang tidak layak huni.

REMBANG, MataAirRadio.net – Pemerintah Kabupaten Rembang mengklaim jumlah rumah tak layak huni di kabupaten ini hanya belasan ribu saja atau tinggal sekitar 18.000 unit. Pemkab sudah menata sekitar 900 rumah pada 2012 dan lebih dari seribu rumah pada 2013, agar menjadi layak huni.

Wakil Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, penataan rumah tidak layak huni di kabupaten ini dilakukan secara bertahap. Tahun ini, pemkab kembali akan mengupayakan dana dari APBD hingga APBN, untuk kembali merehabilitasi rumah yang masih tidak layak.

Secara khusus Hafidz mengatakan, dana dari program nasional pemberdayaan masyarakat atau PNPM, juga ada alokasi untuk kepentingan penataan rumah tidak layak huni. Dia berharap bisa memangkas lagi jumlah rumah yang demikian pada tahun ini.

Sunipan, tokoh masyarakat Dusun Gondanrojo Desa Kalipang Kecamatan Sarang meminta Pemerintah serius melakukan pendataan rumah tidak layak huni. Jangan sampai data hanya dibuat manis, sementara faktanya tidak demikian.

Dia mengakui, masih cukup banyak rumah tidak layak huni di daerahnya, terutama mereka yang menjadi korban abrasi pada Juli 2013 lalu. Bahkan bantuan yang didengungkan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang, belum terkucur kepada warganya.

Memang sudah ada beberapa warganya yang mendapat alokasi program rehabilitasi rumah tak layak huni. Namun dia berharap, Pemerintah kembali memperjuangkan nasib warga yang rumahnya dihajar abrasi kemarin.

Sementara itu menurut keterangan pihak Bappeda Rembang, rumah tak layak huni dibagi dalam tiga klasifikasi, A, B dan C. Rumah tidak layak huni yang masuk kriteria A di antaranya memiliki ciri-ciri seperti pondasi batu, lantai plesteran, atap menggunakan genteng, bahan kayu tahan lama, sudah memiliki jaringan penerangan listrik, dan sumber air sumur artesis.

Rumah tidak layak huni kriteria B antara lain memiliki ciri pondasi bata, dinding papan atau kayu, atap masih menggunakan seng, bahan kayu tahunan seperti mahoni, dan kandang ternak berada di dekat rumah. Warga yang memiliki rumah kriteria B menggunakan penerangan dengan lampu petromak dan air bersih dari sumur gali.

Untuk kriteria C memiliki ciri pondasi umpak atau tiang, lantai masih tanah, atap rumbia, bahan bambu, dan belum miliki kamar mandi. Penerangan di dalam rumah ini juga hanya mengandalkan lampu teplok. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan