Rumah Dilabeli Miskin, 163 Penerima PKH Mundur

Senin, 27 Mei 2019 | 16:30 WIB

Salah satu rumah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Pamotan. (Foto: mataairradio.com)

 

 

PAMOTAN, mataairradio.com – Sebanyak 163 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di 23 Desa di Kecamatan Pamotan menyatakan mundur dari program bantuan pemerintah tersebut sejak dilakukan labelisasi keluarga miskin oleh pendaping PKH di Kecamatan Pamotan.

Retnowati Kordinator pendamping PKH Kecamatan pamotan menyatakan jumlah KPM pada wilayah kerjanya sebanyak 2835 KPM namun yang diberi label sebanyak 2672 KPM karena 163 KPM yang lain menyatakan mundur karena malu jika rumahnya di beri label keluarga miskin.

Perempuan asal Desa Pamotan ini menegaskan bahwa salah satu tujuan pelabelan yang dilakukan oleh pihaknya agar program pemerintah ini tepat sasaran, sehingga KPM yang merasa mampu secara ekonomi mempunyai kesadaran untuk mengundurkan diri. Sebab untuk menghentikan bantuan PKH selain kesadaran masyarakat sendiri hanya lewat jalur rekomendasi dari desa setempat melalui Musyawarah Desa (Musdes).

Pelabelan ini baru dilakukan di Kecamatan Pamotan sebagai uji coba dan dimulai sejak 18-26 Mei 2019 kemarin. Pendamping PKH juga berusaha untuk memberi pengertian kepada KPM yang dianggap mampu untuk sadar dan mengundurkan diri sehingga program bisa tepat sasaran dan tidak terjadi kesenjangan sosial.

Retno menambahkan bahwa mentalitas miskin memang harus dihilangkan dari masyarakat. Ketika turun lapangan dirinya mengaku mendapati KPM yang jelas-jelas mampu secara ekonomi menurut standar dinas sosial namun masih mempertahankan keanggotaannya di PKH.

“Sing gadah sapi, sawah, gadah motor kalih, terus daleme keramik nggeh wonten Mas, tapi yo mboten isin ngono kuwi,” ungkapnya.

Mohamad Imron PJ Kades Pamotan saat dikonfirmasi reporter MataAir Radio pada Senin (27/5/2019) pagi mengaku sangat mendukung labelisasi yang ada di wilayahnya. Menurutnya KPM yang mampu biar malu jika rumahnya di beri label apalagi jika ada tamu yang datang.

Pihak Pemdes sendiri saat dipimpin oleh Kades sebelumnya (Abdul Rouf) sudah pernah menggelar Musdes untuk mengeluarkan ataupun memasukkan warganya ke dalam program ini. Sedangkan saat dirinya memimpin pembaharuan data warga miskin terus dilakukan supaya jika ada bantuan apapun dari pemerintah tidak salah sasaran.

“Dulu pernah Mas, warga Tajen (dusun) yang kita datangi bersama pendamping PKH. Kan kita anggap mampu namun ya gitu, orang tetap gak mau mundur akhirnya kita buat surat pernyataan bermaterai bahwa yang bersangkutan mengaku miskin,” ungkapnya.

Romlah, warga Dusun Gelanggang Desa Pamotan yang menerima bantuan PKH mengaku ikhlas jika rumahnya di labeli karena dirinya masih mempunyai anak sekolah. Jika memang sudah merasa mampu maka dirinya akan mundur dari program tersebut.

“Tasih gadah lare sing sekolah Mas, niki mawon malah nembe mlebet SMP,” pungkasnya.

Dari pantauan reporter MataAir Radio pada Senin (27/5/2019) pagi, beberapa rumah yang mendapat labelisasi memang layak untuk mendapatkan bantuan namun ada beberapa yang tampak bagus namun masih mendapat label keluarga miskin dari pendamping PKH.

Penulis: Mohamad Siroju Munir
Editor: Mohamad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan