RTH GOR Dikeruk, BLH Bilang untuk Taman

Senin, 5 Oktober 2015 | 17:28 WIB
Gelanggang Olahraga (GOR) Mbesi Rembang. (Foto: mataairradio.com)

Gelanggang Olahraga (GOR) Mbesi Rembang. (Foto: mataairradio.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Rembang mengeruk bagian depan dari Kompleks Gelanggang Olahraga (GOR) Mbesi.

Padahal sebelumnya, bagian depan GOR tersebut merupakan salah satu ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah Kota Rembang.

Kepala BLH Rembang Purwadi Samsi yang ditemui seusai menghadiri upacara peringatan HUT TNI di Alun-alun Rembang, Senin (5/10/2015) pagi mengatakan, RTH itu akan “disulap” menjadi taman.

“Namanya kalau dalam istilah kami (BLH), Taman ke Hati. Fungsinya untuk rekreasi warga dan permainan anak-anak,” terangnya kepada radio ini.

Pembuatan taman itu akan diintegrasikan dengan pembuatan dua unit tangkapan air yang ditaruh di bagian belakang Kompleks GOR Mbesi. Ia menolak pembuatan taman itu dikaitkan dengan rencana pemanfaatan GOR sebagai restoran oleh pihak ketiga.

“Kalau soal penyewaan GOR, kami nggak tahu ya. Bukan pada tupoksi kami. Tidak ada kaitannya,” tegasnya.

Selain membantah kaitan antara pembuatan taman dengan rencana pemanfaatan aset mangkrak itu oleh pihak ketiga, Purwadi juga menampik penataan bagian depan Kompleks GOR Mbesi berkaitan dengan perilaku mesum sebagian kalangan muda-mudi di areal tersebut.

Mantan Kabag Umum dan Camat Sulang itu menyatakan tidak tahu jika selama ini kawasan GOR kerap dipakai sebagai ajang mesum kalangan muda-mudi tak bertanggungjawab.

“Pembuatan taman akan ditujukan sebagai sarana olahraga ringan, selain juga rekreasi,” katanya menekankan.

Karena diintegrasikan dengan pembangunan dua unit tangkapan air, menurut Purwadi, pembuatan Taman ke Hati itu akan selesai pada tahun 2016. Anggaran pembuatan taman dikaver lewat APBD Perubahan 2015 dan APBD 2016.

“Anggarannya berkisar antara Rp75-100 juta,” ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan nasib RTH Kota Rembang, jika kawasannya disulap menjadi taman? Purwadi menjelaskan, taman tersebut masih akan ditanami pelindung, sehingga tidak menghilangkan RTH.

“Sebelum dikeruk, RTH tidak maksimal, karena banyak tanaman yang mati,” imbuhnya.

Dia menambahkan, tangkapan air di bagian belakang GOR, akan difungsikan tidak sekadar untuk kepentingan perawatan RTH, tetapi digunakan pula untuk wisata air dan outbound sederhana.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan