RSUD Rembang Peras Otak Tangani Pasien Membeludak

Jumat, 29 Januari 2016 | 16:40 WIB
Sejumlah pasien dirawat di Ruang Tunggu Ruangan Ortopedi pada Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang, Kamis (28/1/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Sejumlah pasien dirawat di Ruang Tunggu Ruangan Ortopedi pada Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang, Kamis (28/1/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak manajemen RSUD dr R Soetrasno Rembang menyatakan harus memeras otak guna menangani jumlah pasien yang membeludak dalam sepekan terakhir.

Selain harus meminjam tandu lipat guna merawat pasien, RSUD juga dituntut sigap menata perawat.

Humas RSUD dr R Soetrasno Rembang Giri Saputro mengaku tidak bisa berbuat banyak terhadap ketersediaan perawat. Menurutnya tak mungkin jika harus merekrut tambahan perawat dalam waktu singkat.

“Yang kami lakukan, ya terpaksa mempekerjakan perawat yang jatahnya libur,” terangnya.

Selain itu, petugas medis di unit gawat darurat juga mesti cakap dan cekatan mendistribusikan pasien. Giri menuturkan, Rabu (27/1/2016) lalu, ruang UGD sempat penuh sesak dengan pasien karena menampung sekitar 25 orang.

“Memang ketika pasien overload, kami terkendala jumlah perawat,” akunya.

Saat berbincang dengan mataairradio tentang penyikapan jumlah pasien yang membeludak hingga melebihi daya tampung rumah sakit yang hanya 258 tempat tidur, Giri mengaku tidak sampai menambah jam kerja perawat atau petugas medis.

“Satu sift kerja tetap 8 jam alias tidak ada lembur,” katanya.

Ia bahkan mengungkapkan, pada Rabu (27/1/2016) lalu itu, sebagian pejabat struktural sampai turun tangan untuk membantu menangani pasien di berbagai ruang dan ruang tunggu yang disulap sebagai tempat perawatan dengan memanfaatkan tandu lipat.

“Apalagi saat itu internet ‘trouble’,” katanya.

Soal kendala listrik padam, bagi pihak rumah sakit, hal itu tidak terlalu bermasalah, karena ada generator set atau genset. Standarnya, 7 detik usai listrik padam, genset sudah harus menyala.

“Saat pasien overload seperti saat ini, perawat dilarang izin untuk hal yang tak penting,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Rembang Frida Iriani terpantau mengecek penanganan pasien di RSUD setempat, Jumat (29/1/2016) pagi.

Ia mengaku datang untuk memastikan mutu penanganan terhadap pasien saat tingkat okupasi lebih dari 100 persen.

Dari hasil pantauannya, pihak rumah sakit sudah lumayan responsif dalam pelayanan.

“Namun yang sering terkendala adalah obat,” bebernya.

Ia berpesan pada rumah sakit agar jangan sampai menolak pasien, kecuali yang bersangkutan tidak mau dirawat di situ karena kondisi penuh.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan