RSUD Ogah Lepas “Dilarang Berbitjara Keras”

Selasa, 24 November 2015 | 16:05 WIB
Papan imbauan "Dilarang Berbitjara Keras" masih terpampang di RSUD dr R Soetrasno Rembang, setidaknya sampai Selasa (24/11/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Papan imbauan “Dilarang Berbitjara Keras” masih terpampang di RSUD dr R Soetrasno Rembang, setidaknya sampai Selasa (24/11/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Manajemen RSUD dr R Soetrasno Rembang ogah melepas papan imbauan bertuliskan kata berejaan Soewandi di salah satu sudut masuk rumah sakit tersebut, setidaknya sampai Selasa (24/11/2015) ini.

Papan itu bertuliskan “Dilarang Berbitjara Keras”. Jika pada ejaan yang disempurnakan, kata berbicara memuat huruf “c”, tetapi di papan itu, masih memakai huruf “tj” karena menganut ejaan Soewandi.

“Saya tidak paham sejarah pemasangan papan itu,” kata Giri Saputro, juru bicara rumah sakit tersebut.

Tetapi pemasangan papan imbauan itu diduga masih di era tahun 1954, atau di awal pendirian rumah sakit daerah tersebut.

Meski sudah berada di zaman modern, pihaknya belum berencana melepas papan itu dan menggantinya dengan yang baru.

“Saya pribadi berharap papan itu dibiarkan untuk mengingatkan kita pada sejarah. Soal bangunan, di rumah sakit ini juga masih ada tiga bangunan lama. Kalau bisa sih ya dipertahankan juga,” katanya.

Papan imbauan peninggalan ejaan semasa tahun 1947-1972 itu terpampang di dekat pintu masuk bagian dalam rumah sakit, persis di sebelah timur kotak sekering dan di bawah papan imbauan lain.

Menurut keterangan beberapa petugas rumah sakit, papan imbauan itu, tidak pernah digeser.

“Tidak pernah ada pembahasan atau rasan untuk mencopot papan imbauan itu,” tegas Giri.

Ia pribadi tidak ingin kalau papan itu digantikan dengan papan baru, walaupun akan tampak lebih modern.

Giri kembali menegaskan, beberapa hal yang sifatnya imbauan dan telah didiskusikan untuk diterapkan, hanya soal batasan usia anak sehat yang boleh masuk berkunjung ke rumah sakit.

“Saat ini, batasan usia anak sehat yang boleh masuk berkunjung ke rumah sakit; 14 tahun, dulunya 12 tahun,” imbuhnya.

Purwoko, salah seorang pengunjung pasien asal Sedan, mengapresiasi manajemen rumah sakit daerah, yang masih melestarikan papan imbauan itu, kendati sudah tampak kuno.

“Hal-hal klasik seperti papan imbauan bertuliskan ejaan Soewandi itu perlu sebagai kenangan masa lalu,” katanya.

Namun soal tiga bangunan kuno di rumah sakit itu, baginya tidak mutlak dipertahankan, jika tidak masuk kategori cagar pelestarian.

“Kalau pihak rumah sakit ingin mempertahankannya, maka tingkat pelapukan bangunan, perlu menjadi pertimbangan terhadap potensi bahaya pada pasien,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan