Rembang Hadapi Tantangan Rendahnya Minat Baca Perempuan

Rabu, 20 Juli 2016 | 18:59 WIB
Enam orang perempuan mewakili ribuan perempuan lainnya di Kabupaten Rembang saat menyampaikan ikrar dan testimoni mengenai pemberdayaan perempuan marginal saat pencanangan GP3M di Alun-alun Rembang, Rabu (20/7/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Enam orang perempuan mewakili ribuan perempuan lainnya di Kabupaten Rembang saat menyampaikan ikrar dan testimoni mengenai pemberdayaan perempuan marginal saat pencanangan GP3M di Alun-alun Rembang, Rabu (20/7/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pemerintah Kabupaten Rembang menghadapi tantangan berupa masih rendahnya tingkat minat baca masyarakat, terutama pada kalangan perempuan marginal.

Pasalnya, berdasarkan data terkini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masih ada 17.000 warga buta aksara yang 12.000 di antaranya adalah perempuan di Kabupaten Rembang.

Tantangan dan kenyataan tersebut terungkap pada acara pencanangan Gerakan Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan Marginal dan Gerakan Literasi Sekolah yang berlangsung di Alun-alun Rembang, Rabu (20/7/2016) siang.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan pada Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Erman Syamsudin mengatakan, gerakan bersebut dicanangkan di 20 kabupaten di seluruh Indonesia.

“GP3M ini akan membuka akses pendidikan untuk semua orang terutama para perempuan marginal. Untuk itu kami mengajak TP PKK dan seluruh organisasi perempuan untuk bergerak bersama, apalagi jika masih ada perempuan yang termarginalkan,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, pencanangan gerakan tersebut di Kabupaten Rembang karena berpotensi sebagai daerah dengan suplai tenaga kerja wanita yang tinggi, selain Indramayu, Malang, dan Cianjur pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

“Kalau tidak disiapkan sejak sekarang, (keterbelakangan literasi dan pemberdayaan perempuan marginal) bisa menjadi malapetaka. Memang saat ini masih ada kesulitan karena guru-guru kekurangan bahan dan orang tua belum mampu menyiapkan bahan (bacaan) di rumah,” katanya.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menyatakan berkomitmen untuk menuntaskan buta aksara di kabupaten ini antara lain dengan strategi satu orang mengajar tiga orang lewat dukungan guru dari tokoh masyarakat.

“Jika satu orang mengajar tiga orang, sedangkan guru di Rembang ada lima ribu orang, maka ditambah pendidik dari tokoh masyarakat, saya kira angka buta aksara 17 ribu itu akan selesai dalam dua tahun,” katanya.

Sri Haryani, seorang perempuan di Desa Demaan Kecamatan Gunem mengaku menjadi bagian dari penerima program pendidikan kecakapan hidup perempuan dari Kemendikbud, dengan jenis pelatihan membuat hantaran lamaran.

“Saya satu kelompok 25 orang. Diajari cara buat hantaran. Secara kabupaten, ada 1o kelompok di 1o kecamatan yang menerima program ini. Hal ini bisa membantu perempuan di daerah pinggiran seperti kami, bisa makin melek aksara dan berketerampilan,” ujarnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan