Rembang Dibanjiri Garam Impor

Senin, 5 Juni 2017 | 15:20 WIB

Garam briket yang diproduksi oleh Pupon di Dukuh Dresen Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. Usaha produksi itu terancam menyusul tutup seiring nyaris habisnya stok garam di seluruh petani setempat. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

LASEM, mataairradio.com – Garam impor dari India dan Australia terpantau membanjiri Kabupaten Rembang sejak April 2017 sebagai dampak krisis pasokan garam lokal.

Dadiono, salah seorang petani garam di Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem menyebutkan, pasokan garam lokal nyaris sudah tidak lagi tersedia.

“Di gudang saya sudah habis pasokannya. Kalau pun masih, ya tinggal sedikit saja. Garam impor mulai masuk sekarang, dengan harga yang berbeda-beda,” katanya, Senin (5/6/2017).

Harga garam lokal pun terpantau mengalami penurunan sebesar Rp400 dari Rp2.400 per kilogram menjadi Rp2.000 per kilogram.

Ia juga menyebutkan, harga garam impor tidak sama. Pasalnya, harga garam impor dari Australia hanya Rp1.900 per kilogram, sedangkan yang dari India mencapai Rp2.400 per kilogram.

“Yang dari India itu garam siap konsumsi, sedangkan garam dari Australia tidak langsung siap konsumsi. Masih harus diproses lagi,” katanya.

Guna memulihkan pasokan, menurut Dadiono, petani garam di daerahnya tidak bisa banyak berbuat. Pasalnya, kondisi cuaca belum memadai untuk memulai produksi garam.

“Sebelum bulan Puasa, kami sempat memproduksi garam. Tapi di awal Ramadan, hujan turun lumayan deras, sehingga tidak bisa melanjutkan produksi dan memulai lagi dari nol,” ujarnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan