Rembang Masih Steril dari Peredaran Daging Gelonggongan

Jumat, 18 Juli 2014 | 16:18 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

REMBANG, MataAirRadio.net – Peredaran daging sapi gelonggongan mengancam hampir semua daerah di Jawa Tengah. Namun hingga hari Jumat (18/7) ini, Rembang masih steril dari peredarannya. Daging gelonggongan adalah daging dari sapi yang dipaksa meminum banyak air sebelum disembelih untuk menambah bobotnya.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Idham Rahmadi mengatakan, biasanya para pedagang di pasar akan dengan cepat melapor, apabila menjumpai daging gelonggongan. Menurut mereka, meski murah, daging jenis ini berkualitas jelek dan dicueki konsumen.

Pihaknya memang mengetatkan pengawasan di pasar tradisional setelah muncul kasus daging gelonggongan di Sragen, Boyolali, dan Solo. Setiap dua hari sekali, dilakukan pengawasan. Pemasok daging gelonggongan biasanya memanfaatkan mobil bak terbuka dan cenderung buru-buru saat menjual.

Tidak hanya ke pasar tradisional, pengetatan pengawasan peredaran daging menjelang Lebaran tahun ini, juga dilakukan semenjak dari rumah pemotongan hewan atau RPH. Sejauh ini, Idham menyatakan, belum ada gejala yang mencurigakan. Daging sapi dari rumah pemotongan juga dipastikan kelayakannya.

Tim Kesehatan Hewan memastikan pula kelayakan konsumsi daging unggas, khususnya sepuluh hari terakhir bulan Puasa. Pemeriksaan tingkat kelayakan daging, baik ternak maupun unggas perlu dilakukan mengingat lonjakan tingkat konsumsi menjelang Lebaran.

Menurutnya, pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap kandungan formalin pada daging. Dia mengambil sampel daging untuk diperiksa selama 10 menit dengan bantuan alat tes. Cincin cair warna ungu yang muncul dari alat ini menunjukkan adanya formalin. Sejauh ini, juga belum ada temuan seperti itu.

Sementara itu, memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, harga daging ayam berada di kisaran Rp26.000-Rp27.000 per kilogram atau naik Rp1.500 dari harga Rabu (16/7) kemarin. Sementara harga daging sapi, cenderung stabil tinggi di angka Rp90.000 per kilogram.

Harga dua jenis komoditas ini diprediksi akan naik lagi, meski tipis, hingga sehari menjelang dan saat Lebaran. Kendati harganya tinggi, namun pembeli tak lantas mengalihkan konsumsi daging ke ikan laut atau tahu dan tempe. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan