Rembang Butuh Tambahan Alat Pendeteksi Tanah Longsor

Kamis, 25 Desember 2014 | 15:44 WIB
Foto longsor di Desa Kumbo beberapa bulan yang lalu. (Foto:Pujianto)

Foto longsor di Desa Kumbo beberapa bulan yang lalu. (Foto:Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kabupaten Rembang disebut membutuhkan tambahan alat pendeteksi tanah longsor. Pasalnya, kabupaten ini punya cukup banyak daerah yang rentan dengan bencana tersebut.

Hingga Desember 2014, Rembang baru memiliki satu alat pendeteksi tanah longsor yang ditempatkan di Dusun Manggarsuwung Desa Bendo Kecamatan Sluke. Alat tersebut dipasang sejak 2012 dan memiliki fungsi pencegahan korban longsor sejak dini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang Suharso mengaku belum mampu menambah alat pendeteksi tanah longsor. Satu alat yang sudah dimiliki itu saja, merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Soal harganya, kami tak tahu alat seperti itu mahal atau tidak. Yang jelas bermanfaat untuk pencegahan timbulnya korban bencana,” ujarnya, Kamis (25/12/2014).

Suharso menjelaskan, alat pendeteksi tanah longsor akan mengeluarkan bunyi layaknya sirine, apabila terdapat rekanan tanah yang kian melebar pada titik tempat dipasangnya alat tersebut.

“Untuk menganggarkan sendiri alat pendeteksi tanah longsor itu, kami belum mampu. Sekadar mengandalkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” tegasnya.

Di Rembang, menurut BPBD, semestinya ada tambahan paling tidak dua lagi alat pendeteksi tanah longsor, untuk ditempatkan di Perbukitan Kalilo Desa Gowak Kecamatan Lasem dan di daerah Bitingan Kecamatan Sale.

“Sebenarnya, tidak hanya dua daerah itu saja yang rawan longsor. Wilayah lain seperti Pancur, Sedan, Kragan, dan Gunem juga memiliki kerawanan nyaris sama. Hanya saja, Gowak dan Bitingan, perlu diprioritaskan,” imbuhnya.

Sumarno, Perangkat Desa Bendo Kecamatan Sluke mengatakan ketika hujan deras disertai tiupan angin kencang, tak lama kemudian, biasanya pendeteksi tanah longsor berbunyi untuk memberikan peringatan bagi 15 kepala keluarga yang rawan terkena bencana.

“Di atas permukiman penduduk, terdapat bukit yang tingkat kemiringannya mengkhawatirkan. Diperparah lagi, ada sejumlah batu berukuran raksasa, yang sewaktu-waktu bisa meluncur ke bawah, jika curah hujan terus meningkat,” tuturnya.

Di Dusun Manggarsuwung, warga menyadari betul potensi bencana. Bahkan mereka juga sudah menyiapkan lokasi pengungsian, manakala terjadi bencana, yakni dengan mengalihfungsikan bangunan lumbung pangan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan