RBSJ Bakal Tampung “Uang Preman” Tanjung Bonang

Rabu, 11 Maret 2015 | 19:46 WIB
Pelabuhan Tanjung Bonang sisi barat yang dimanfaatkan sebagai Kantor PT Bangun Arta Kencana. (Foto: Pujianto)

Pelabuhan Tanjung Bonang sisi barat yang dimanfaatkan sebagai Kantor PT Bangun Arta Kencana. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) bakal menampung “uang preman” dari sejumlah investor yang berkegiatan di Pelabuhan Tanjung Bonang, mulai tahun ini.

Hingga Rabu (11/3/2015) siang, pihak RBSJ mengaku belum memperoleh pendapatan dari kegiatan pelabuhan.

Istilah uang preman ini, menurut Direktur PT RBSJ Prilestyo, dicuatkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) saat menyarankan pemungutan kontribusi dari kegiatan investor di atas lahan yang belum mengantongi hak pengelolaan lahan atau HPL.

Kontribusi atas lahan yang belum ber-HPL mesti didapat RBSJ yang sejak awal bertindak sebagai pemrakarsa kegiatan di pelabuhan.

“(Soal) kontribusi atas lahan yang sudah ber-HPL, mestinya diterima Pemkab sebagai pemilik lahan. Soal besar kecilnya kontribusi, akan ditentukan dari nilai kegiatan dari setiap investor,” terangnya.

Anggota Komisi B DPRD Rembang Joko Suprihadi menganggap arah kerja PT RBSJ dalam hal pengelolaan pelabuhan, tidak jelas.

“Jika perusahaan milik daerah itu hanya mengandalkan pendapatan dari kontribusi pemanfaatan lahan di atas HPL, maka nilai sumbangan pendapatan ke daerah, terlalu kecil,” katanya.

Misalnya, apabila mengacu perjanjian pemanfaatan lahan antara Pemkab Rembang dengan PT Pelabuhan Rembang Kencana (PRK) selaku anak perusahaan PT RBSJ, maka kontribusi pendapatan hanya Rp200 juta per tahun.

“Pendapatan itu pun baru bisa dibayarkan setelah terbit hak guna bangunan (HGB) atas lahan 8,1 hektare,” katanya.

Joko menegaskan, semestinya RBSJ bekerja untuk membesarkan perusahaan. Terobosan yang dilakukan, seharusnya tidak untuk upaya pribadi mereka di perseoran.

“Dengan begitu, deviden atau bagi hasil laba dari RBSJ kepada Pemkab akan turut meningkat,” tandasnya.

Seperti diketahui, RBSJ pertama kali menyetor deviden Rp1,69 miliar ke kas daerah pada 2008. Namun pada 2009, setoran menurun menjadi Rp1,64 miliar.

Setoran deviden turun lagi menjadi Rp1,05 miliar pada 2010. Pada 2011, RBSJ tidak menyetor deviden ke kas daerah. Namun pada 2012, RBSJ kembali menyetor, namun hanya sebesar Rp262,5 juta.

Tahun 2013, PT RBSJ kembali tidak menyetor deviden. Demikian juga pada tahun lalu. Padahal perusahaan daerah ini dimodali dengan APBD Rembang 2006-2007 senilai total Rp35 miliar.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan